Kotacimahi.com

Portal Berita Terkini

Ibu Darrel Menangis Akibat Peluru Nyasar TNI AL, Diperintahkan Buat Video Minta Maaf

Insiden Peluru Nyasar yang Menimpa Siswa SMPN 33 Gresik

Pada tanggal 17 Desember 2025, seorang siswa SMPN 33 Gresik, Jawa Timur, bernama Darrell Fausta Hamdani, berusia 14 tahun, menjadi korban peluru nyasar dari latihan tembak prajurit TNI AL Korps Marinir. Insiden ini terjadi saat para siswa sedang mengikuti kegiatan sosialisasi di dalam mushala sekolahnya. Saat itu, Darrell sedang membaca brosur dan tiba-tiba terkena peluru di tangan kirinya.

Peluru tersebut berasal dari latihan tembak yang dilakukan oleh prajurit TNI AL di Lapangan Tembak Bumi Marinir Karangpilang Surabaya, yang berjarak sekitar 2,3 kilometer dari sekolah. Peluru menembus lengan kiri Darrell hingga mengenai tulangnya, sehingga membuat tangannya harus dipasang pen. Akibatnya, tangannya tidak bisa ditekuk maupun diluruskan secara normal.

Sementara itu, temannya yang bernama Renheart juga terkena peluru, namun hanya mengenai lapisan lemak tanpa mencederai bagian tulang maupun organ dalam. Kedua korban langsung dilarikan ke RS Siti Khodijah Sepanjang, Sidoarjo.

Keluarga Korban Mengeluhkan Penanganan Kasus

Ibu dari Darrell, Dewi Murniati, menyampaikan keluhan atas penanganan kasus ini. Dalam konferensi pers yang digelar di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Kamis (2/4/2026), ia mengaku sempat diminta membuat video permintaan maaf dan menghapus unggahannya di media sosial. Permintaan ini awalnya didasari kebuntuan mediasi dengan pihak kesatuan Marinir saat mediasi kedua pada 19 Februari 2026.

Dewi menjelaskan bahwa ia awalnya mengajukan surat berisi permintaan untuk menyelesaikan kasus secara damai, tetapi ditolak. Draf perjanjian yang ia ajukan satu pun tidak ada yang dipakai sama mereka. Justru pihak kesatuan membuat draf sendiri yang justru menuntut Dewi untuk meminta maaf.

“Yakni yang pertama, saya sebagai ibu korban harus membuat permintaan maaf di dalam video yang itu video tersebut dibuat di batalion mereka, di samping saya men-take down surat terbuka yang sudah saya buat pada bulan Februari usai saya laporan ke POM AL,” ujarnya.

Enam Tuntutan Korban

Dewi menjelaskan bahwa awalnya draf yang ia susun dan dikirim kepada TNI AL memiliki total enam tuntutan. Ia menuntut agar TNI AL memohon maaf atas insiden peluru nyasar, bertanggung jawab atas kerugian materiil dan immateriil, menanggung biaya medis dan psikologis hingga tuntas, bertanggung jawab atas efek jangka panjang, mempermudah korban masuk TNI jika berminat, serta memberikan tali asih.

Namun, poin-poin tersebut tidak diakomodasi dan hanya memberikan jawaban yang dinilai tak pasti. “Di situ mereka menyampaikan bahwa akan bertanggung jawab, saya garis bawahi ‘masih akan bertanggung jawab’, tetapi enggak jelas, tanpa merinci apa saja yang saya minta,” kata Dewi.

Ia juga menolak draf damai dari TNI AL karena dinilai menyamaratakan kompensasi antara anaknya, Darrell, yang tulang lengannya remuk dan harus dipasang pen, dengan korban lainnya yang lukanya lebih ringan.

“Pihak kesatuan tidak membedakan antara korban satu dan korban yang lain. Ini yang saya tidak sepakat, karena apa? Lukanya berbeda, efeknya berbeda,” jelas dia.

Marinir Bantah Intimidasi

Menanggapi pernyataan keluarga korban, Komandan Resimen Bantuan Tempur 2 Marinir, Ahmad Fauzi, membantah adanya intimidasi kepada keluarga korban. “Kami tegaskan tidak pernah ada tindakan intimidatif terhadap keluarga korban. Kehadiran perwira yang dimaksud semata-mata untuk kepentingan pendalaman teknis terkait dengan proyektil dan komunikasi dilakukan dalam situasi terbuka tanpa tekanan,” ujar Fauzi dalam keterangan resminya, dikutip Kamis (2/4/2026).

Terkait mediasi yang buntu, pihak Marinir mengklaim hal tersebut terjadi karena besarnya tuntutan finansial dari pihak Dewi yang diklaim mencapai Rp 3 miliar. “Proses mediasi tidak berjalan sesuai yang diharapkan dikarenakan pihak korban mengajukan tuntutan materiil dan immaterial berupa permintaan sejumlah uang yang menurut kami tidak patut dan tidak berkeadilan,” kata Fauzi.

Ia menegaskan, mereka telah membiayai seluruh operasi pengangkatan proyektil, perawatan, kontrol lanjutan, serta memberikan santunan.

Permasalahan dengan korban lainnya, yakni Renheart, telah selesai secara kekeluargaan dan orangtua Renheart telah membuat video klarifikasi.

[PIC-0]

[PIC-1]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *