Visi Jakarta sebagai Kota Cerdas yang Berbasis Data dan Inovasi
Dalam sebuah acara bertajuk SAS Innovate di Singapura, Rabu (13/8), Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) DKI Jakarta Budi Awaludin menyampaikan visi besar untuk menjadikan Jakarta sebagai kota cerdas. Acara ini menjadi wadah bagi para pemimpin kota, pelaku industri, serta pakar teknologi untuk berdiskusi mengenai inovasi dan solusi dalam membangun kota yang lebih efisien dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Tema utama dari acara tersebut adalah “Powering Jakarta’s Smart City Future with Data, AI, and Citizen-Centric Innovation”. Budi menekankan bahwa konsep smart city tidak hanya sekadar menambahkan teknologi baru. Ia menilai bahwa pendekatan terpadu yang melibatkan data, teknologi, dan partisipasi warga merupakan kunci utama dalam menghadapi tantangan perkotaan yang semakin kompleks.
“Kota dikatakan cerdas ketika mampu merespons kompleksitas dengan adaptif dan empati terhadap warganya,” ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa perencanaan kota harus selalu berorientasi pada kebutuhan dan kenyamanan masyarakat.
Saat ini, Jakarta menduduki posisi ke-74 dalam Global City Index. Namun, Pemprov DKI memiliki target ambisius yaitu masuk 20 besar dunia pada tahun 2045, bertepatan dengan perayaan 100 tahun kemerdekaan Indonesia. Untuk mencapai hal tersebut, pihak pemerintah terus memperkuat layanan publik berbasis digital.
Salah satu contohnya adalah aplikasi JAKI (Jakarta Kini), yang merupakan superapp resmi dari Pemprov DKI. Aplikasi ini mengintegrasikan berbagai layanan yang ada di lingkup pemerintahan, mulai dari pengaduan warga hingga pemantauan kualitas udara dan peringatan dini bencana. JAKI juga telah direplikasi di beberapa daerah lain di Indonesia, membuktikan bahwa model ini dapat diterapkan secara luas.
Selain itu, Jakarta juga sedang meningkatkan infrastruktur teknologi. Targetnya adalah mencapai 5.000 unit pada tahun 2026. Selain itu, pihak pemerintah juga memanfaatkan synthetic data untuk uji coba kebijakan sebelum diterapkan secara nyata.
“Prinsip kami sederhana, data harus dapat diakses, dipercaya, dan digunakan untuk pengambilan keputusan yang berdampak. Data bukan hanya dikumpulkan, tetapi dikontekstualisasikan untuk berpikir dan bertindak,” jelas Budi.
Portal Open Data Sebagai Langkah Transparansi dan Inovasi
Dalam forum yang sama, Budi juga mengumumkan rencana peluncuran portal open data yang akan mengintegrasikan data dari seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Pemprov DKI. Portal ini dirancang untuk mempermudah akses publik terhadap data resmi, sekaligus memperkuat transparansi dan mendorong pemanfaatan data untuk inovasi layanan.
Budi menegaskan bahwa keberhasilan smart city tidak bisa dicapai sendirian. Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, termasuk pemerintah, dunia usaha, hingga masyarakat. Menurutnya, Jakarta harus menjadi laboratorium urban terbesar di kawasan, tempat ide, inovasi, dan solusi diuji dalam konteks nyata yang menantang sekaligus penuh peluang.
Dengan langkah-langkah ini, Jakarta berkomitmen untuk terus berkembang menjadi kota yang tidak hanya modern, tetapi juga manusiawi dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Tantangan yang ada di ibu kota akan terus dihadapi dengan pendekatan yang holistik dan berkelanjutan.






























































