Peristiwa Kekerasan yang Menggemparkan Saat Pertandingan Sepak Bola
Pada hari Kamis, 14 Agustus 2025, sebuah peristiwa yang mengejutkan terjadi saat berlangsungnya pertandingan sepak bola Respek OBM CUP III di Lapangan Besikama, Kecamatan Malaka Barat. Ketua DPRD Kabupaten Malaka, Andrianus Bria Seran, diduga melakukan tindakan tidak terpuji dengan menganiaya seorang warga bernama Alfonsius Leki (35). Kejadian ini memicu keributan dan menjadi perhatian masyarakat yang hadir di lokasi.
Menurut informasi yang diperoleh dari saksi mata, insiden tersebut terjadi ketika pertandingan masih berlangsung. Ketua DPRD yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Malaka ini disebut mendekati Alfonsius Leki, yang merupakan anggota perguruan IKS PI KERA SAKTI. Tanpa pemberitahuan sebelumnya, ia langsung melakukan tindakan kekerasan terhadap korban.
Seorang penonton yang juga menjadi saksi mata, Andri Bria, menyampaikan rasa kagetnya terhadap kejadian tersebut. Menurutnya, acara olahraga seperti ini seharusnya menjadi ajang kebersamaan dan keseruan bagi seluruh peserta maupun penonton. Namun, tindakan yang dilakukan oleh Ketua DPRD justru mencoreng suasana tersebut.
Akibat dari kejadian ini, Alfonsius Leki segera membuat laporan ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Malaka. Laporan polisi dengan nomor LP/B/161/VIII/2025/SPKT/Polres Malaka/Polda NTT ini ditandatangani oleh KA SPKT, Aipda Arnoldus Manek Cong, pada tanggal yang sama, 14 Agustus 2025. Dalam laporan tersebut, disebutkan adanya dugaan tindak pidana penganiayaan.
Pantauan media di Mako Polres Malaka menunjukkan bahwa korban, Alfons Leki, sedang ditemani oleh rekan-rekannya menjalani pemeriksaan setelah membuat laporan. Selain korban, penyidik juga sedang memeriksa Andri Bria sebagai saksi dalam kasus penganiayaan tersebut.
Proses Hukum yang Sedang Berlangsung
Kasus ini kini sedang dalam proses penyelidikan oleh pihak berwajib. Penyidik akan meminta keterangan lebih lanjut dari para saksi dan korban untuk memastikan kebenaran fakta-fakta yang terjadi. Dugaan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh seorang pejabat publik tentu menjadi perhatian serius, mengingat posisi dan tanggung jawabnya sebagai representasi rakyat.
Selain itu, kejadian ini juga menjadi bahan pembelajaran bagi masyarakat tentang pentingnya menjaga sikap dan perilaku dalam situasi apa pun, terlebih dalam acara umum seperti pertandingan olahraga. Tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga menjaga martabat dan kehormatan sesama manusia.
Tanggapan Masyarakat
Banyak warga yang merasa prihatin atas kejadian ini. Mereka menilai tindakan yang dilakukan oleh Ketua DPRD tidak pantas dan bertentangan dengan nilai-nilai keadilan serta etika. Beberapa dari mereka juga mempertanyakan apakah ada upaya-upaya yang dilakukan untuk mencegah hal semacam ini terulang kembali.
Masyarakat berharap agar pihak berwajib dapat menangani kasus ini secara transparan dan adil. Selain itu, mereka juga menginginkan adanya pengawasan yang lebih ketat terhadap perilaku para pejabat publik, terutama dalam situasi yang bisa memicu konflik.
Kesimpulan
Peristiwa penganiayaan yang terjadi saat pertandingan sepak bola ini menjadi peringatan bahwa siapa pun, termasuk pejabat publik, harus menjaga sikap dan perilaku mereka. Tindakan yang tidak terpuji dapat merusak citra dan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga-lembaga yang dipegangnya. Dengan demikian, penting bagi semua pihak untuk bekerja sama dalam menjaga harmoni dan kedamaian di tengah masyarakat.





























































