Pasar Smartphone China Menghadapi Tantangan Berat
Pasar smartphone China mengalami masa sulit pada kuartal kedua 2025, dengan pengiriman ponsel turun 4% year-on-year (YoY) menjadi hanya 69 juta unit, menurut laporan IDC. Presiden Xiaomi, Lu Weibing, memprediksi pertumbuhan pasar smartphone global hanya akan berada di bawah 1% untuk tahun ini, jauh lebih rendah dari ekspektasi awal mereka. “Kami memperkirakan pasar smartphone hanya akan sedikit atau bahkan tidak ada pertumbuhan tahun ini, mungkin sekitar 0,1% hingga 0,2%,” ujar Lu Weibing.
Meski menghadapi tantangan ekonomi dan permintaan konsumen yang lemah di China, Xiaomi mencatatkan kinerja positif dengan pendapatan kuartal kedua naik 30,5% menjadi 116 miliar yuan (Rp 262,9 triliun) dan laba bersih melonjak 75,4% menjadi 10,8 miliar yuan (Rp 24,4 triliun), terutama didorong oleh pertumbuhan di Asia Tenggara. Namun, penurunan harga jual rata-rata menyebabkan pendapatan smartphone mereka turun 2,1% menjadi 45,5 miliar yuan, meskipun pengiriman global naik tipis 0,6% menjadi 42,4 juta unit.
Ketahanan Xiaomi di Tengah Pasar yang Lesu
Rudi Santoso, analis teknologi di Jakarta, menilai bahwa Xiaomi tetap menunjukkan ketahanan di tengah pasar yang lesu. “Xiaomi berhasil mencatat pertumbuhan pengiriman di saat merek lain seperti Huawei mengalami penurunan, terutama berkat strategi ekspansi di pasar seperti Indonesia dan India,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa keberhasilan Xiaomi di segmen entry-level dan menengah, seperti seri Redmi A4 dan A5, menjadi kunci pertumbuhan mereka. Meski begitu, Xiaomi menurunkan target pengiriman global 2025 dari 180 juta unit menjadi 175 juta unit, mencerminkan tantangan pasar yang kompleks.
Sementara itu, bisnis kendaraan listrik (EV) Xiaomi menunjukkan potensi besar, dengan pengiriman 81.302 unit pada kuartal kedua dan total 300.000 unit terjual sejak peluncuran SU7 pada Maret 2024.
Penurunan Pengiriman dan Permintaan Konsumen
Laporan IDC mengungkapkan bahwa pasar smartphone China mengalami penurunan signifikan pada kuartal kedua 2025, dengan pengiriman hanya mencapai 69 juta unit, turun 4% YoY. Penurunan ini didorong oleh melemahnya kepercayaan konsumen terhadap pembelian barang elektronik, di tengah pemulihan ekonomi China yang belum stabil. “Permintaan yang lemah dan ketidakpastian ekonomi membuat konsumen lebih berhati-hati dalam membeli ponsel baru,” jelas Sarah Wijaya, pengamat teknologi di Bandung.
Ia menambahkan bahwa kenaikan harga ponsel akibat inflasi juga memperburuk situasi, terutama di segmen premium. Dalam laporan IDC, Huawei tetap memimpin pasar China dengan pengiriman 12,5 juta unit dan pangsa pasar 18,1%, meskipun turun 3,4% YoY. Xiaomi menempati posisi keempat dengan pengiriman 10,4 juta unit, naik 3,4% YoY, dan pangsa pasar 15,1%, menjadikannya satu-satunya merek di lima besar yang mencatat pertumbuhan.
Persaingan dengan Pasar India
Sementara pasar China lesu, pasar smartphone India justru bergairah, dengan pengiriman naik 7,3% YoY menjadi 37 juta unit pada kuartal kedua 2025, menurut IDC. Vivo memimpin pasar India, diikuti oleh Samsung dan Oppo, sementara Xiaomi tetap kuat di segmen entry-level dengan seri Redmi A4 dan A5, yang tumbuh 22,9% YoY. “India menjadi penyelamat bagi Xiaomi, karena permintaan di sana jauh lebih dinamis dibandingkan China,” tegas Rudi Santoso.
Ia mencatat bahwa strategi harga kompetitif dan promosi agresif di India dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, membantu Xiaomi mempertahankan pertumbuhan.
Kinerja Xiaomi: Smartphone dan Kendaraan Listrik
Meskipun pasar global stagnan, Xiaomi mencatatkan pengiriman global 42,4 juta unit pada kuartal kedua 2025, naik tipis 0,6% YoY. Wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, menjadi penyumbang utama dengan pertumbuhan pengiriman yang signifikan. Pendapatan kuartal kedua mencapai 116 miliar yuan (Rp 262,9 triliun), naik 30,5% YoY, dengan laba bersih melonjak 75,4% menjadi 10,8 miliar yuan (Rp 24,4 triliun). Namun, pendapatan dari segmen smartphone turun 2,1% menjadi 45,5 miliar yuan karena harga jual rata-rata (ASP) yang lebih rendah, akibat fokus pada segmen entry-level dan menengah.
“Xiaomi berhasil menjaga pertumbuhan dengan menawarkan ponsel terjangkau seperti Redmi Note 14 Series, yang laris di Indonesia dengan harga mulai Rp 3,5 juta,” ungkap Sarah Wijaya. Di Indonesia, seri seperti Xiaomi 14T dan Redmi Note 14, yang dilengkapi kamera Leica dan prosesor Dimensity 8300-Ultra, mendapat sambutan positif. Namun, penurunan ASP menunjukkan bahwa Xiaomi harus bersaing dengan merek seperti Realme dan Infinix di segmen harga rendah, yang dapat menekan margin keuntungan.
Kendaraan Listrik: Potensi Masa Depan
Bisnis kendaraan listrik Xiaomi menunjukkan perkembangan pesat, dengan pendapatan kuartal kedua mencapai 20,6 miliar yuan (Rp 46,7 triliun), naik dari 18,1 miliar yuan pada kuartal pertama. Pengiriman mobil listrik SU7 mencapai 81.302 unit pada kuartal kedua, meningkat dari 75.869 unit pada periode sebelumnya, dengan total 300.000 unit terjual sejak peluncuran pada Maret 2024. Kerugian bersih unit EV menyempit menjadi 0,3 miliar yuan (Rp 680,1 miliar) dari 0,5 miliar yuan, menunjukkan efisiensi yang lebih baik.
“Xiaomi SU7 menjadi kejutan di pasar EV, dan keyakinan Lu Weibing bahwa bisnis ini akan mencatat laba pada semester kedua menunjukkan potensi besar,” ujar Rudi Santoso. Ia menambahkan bahwa rencana Xiaomi untuk membawa SU7 ke Indonesia, sebagaimana diungkapkan oleh Country Director Xiaomi Indonesia Wentao Zhao pada Januari 2025, dapat memperkuat posisi merek ini di pasar global. Namun, persiapan seperti membangun pabrik lokal dan layanan purnajual masih menjadi tantangan.
Strategi Xiaomi di Indonesia dan Prospek ke Depan
Di Indonesia, Xiaomi tetap menjadi salah satu pemain utama di pasar smartphone, bersaing dengan Samsung, Oppo, dan Vivo. Redmi Note 14 Series, yang dijadwalkan rilis pada 24 Januari 2025 dengan harga mulai Rp 3,5 juta, menawarkan fitur seperti kamera 200 MP dan layar 144 Hz, menargetkan konsumen muda yang mencari ponsel terjangkau dengan spesifikasi premium. “Xiaomi sukses di Indonesia karena strategi penjualan offline yang agresif melalui toko ritel dan kolaborasi dengan e-commerce seperti Shopee dan Tokopedia,” jelas Sarah Wijaya.
Bonus seperti paket data 33 GB/bulan dari Smartfren atau cicilan 0% juga meningkatkan daya tarik. Namun, persaingan di segmen entry-level semakin ketat dengan kehadiran merek seperti Infinix dan Realme. “Xiaomi perlu terus berinovasi dengan fitur seperti kamera Leica atau AI untuk mempertahankan daya saing,” tegas Rudi Santoso. Di sisi lain, peluncuran Xiaomi 14T pada 2025, dengan harga Rp 11,9 juta dan kamera Leica, menunjukkan upaya Xiaomi untuk masuk ke segmen premium.
Rencana peluncuran Xiaomi SU7 di Indonesia, meskipun belum memiliki jadwal pasti, menjadi sorotan karena potensi pasar mobil listrik yang besar. Wentao Zhao, Country Director Xiaomi Indonesia, menyatakan bahwa perusahaan sedang mengevaluasi kondisi lokal, termasuk iklim dan kebutuhan infrastruktur, untuk memastikan kesiapan SU7. “Indonesia adalah pasar strategis untuk EV, dan Xiaomi ingin memastikan SU7 kompetitif dengan merek seperti BYD atau Wuling,” ujar Sarah Wijaya. Dengan harga global SU7 sekitar Rp 500–600 juta, Xiaomi kemungkinan akan menawarkan harga kompetitif untuk menarik konsumen Indonesia.
Xiaomi menghadapi tantangan dari ketidakpastian ekonomi global dan persaingan ketat di segmen entry-level, tetapi peluang di pasar seperti Indonesia dan India tetap besar. Fokus pada ponsel terjangkau dengan fitur premium, seperti Redmi Note 14 Series, dan ekspansi ke bisnis EV memberikan diversifikasi yang kuat. “Xiaomi punya keunggulan dalam inovasi dan harga, tetapi mereka harus lebih agresif dalam pemasaran untuk mengatasi dominasi Samsung dan Apple di segmen premium,” tutur Rudi Santoso.





























































