Penyelidikan KPK Terhadap Kasus Pemerasan di Kementerian Ketenagakerjaan
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus memperluas penyelidikannya terkait dugaan pemerasan yang melibatkan seorang pejabat tinggi di Kementerian Ketenagakerjaan. Dalam kasus ini, nama Irvian Bobby Mahendro (IBM) muncul sebagai tokoh sentral yang disebut-sebut memiliki pengaruh besar di lingkungan Ditjen Binwasnaker & K3. Irvian, yang merupakan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), turut diamankan dalam operasi tangkap tangan (OTT) bersama dengan Wakil Menteri Ketenagakerjaan.
Julukan ‘Sultan’ dan Gaya Hidup yang Menonjol
Irvian diberi julukan ‘sultan’ oleh rekan kerjanya, yang menggambarkan kekayaan dan gaya hidupnya yang sangat berlebihan. KPK menyebut bahwa julukan ini bukan tanpa alasan. Irvian diketahui sering menghabiskan dana besar untuk memenuhi permintaan rekan-rekannya, termasuk renovasi rumah dan pemberian motor gede seperti Ducati. Hal ini menunjukkan bahwa ia memiliki akses ke dana yang cukup besar dalam lingkup kementerian tersebut.
Modus Pemerasan Sertifikasi K3 Sejak Tahun 2019
KPK menemukan bahwa praktik pemerasan tidak hanya terjadi selama masa jabatan tertentu. Investigasi menunjukkan bahwa modus serupa sudah berlangsung sejak tahun 2019. Biaya sertifikasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang seharusnya hanya sebesar Rp 275 ribu diduga dimainkan hingga mencapai Rp 6 juta. Selisih biaya ini kemudian dialirkan ke beberapa pihak, dengan bagian terbesar jatuh kepada Irvian.
Aliran Dana yang Menggelegar
Dari total dana yang terkumpul, KPK menyebut bahwa jumlahnya mencapai Rp 81 miliar. Dari angka tersebut, Irvian disebut mendapat bagian terbesar, yaitu sebesar Rp 69 miliar. Dana ini diduga disalurkan melalui berbagai perantara. KPK kini sedang melakukan penelusuran lebih lanjut dengan metode “follow the money” untuk mengungkap jalur aliran dana tersebut. Jubir KPK Budi Prasetyo menegaskan bahwa setiap aset dan transaksi yang berpotensi terkait akan diteliti secara mendalam.
Dampak pada Kementerian Ketenagakerjaan
Kasus ini menjadi sorotan publik terhadap sistem pengawasan internal di Kementerian Ketenagakerjaan. Sertifikasi K3 seharusnya menjadi program penting untuk menjaga keselamatan pekerja, namun justru digunakan sebagai sarana praktik ilegal yang merugikan negara. Banyak pihak menilai bahwa jika praktik semacam ini dibiarkan berlarut-larut, maka jumlah dana yang terkumpul bisa mencapai angka fantastis.
Respons Publik dan Harapan Reformasi
Pengungkapan kasus ini menambah daftar panjang pejabat yang terlibat korupsi di sektor ketenagakerjaan. Aktivis buruh menilai bahwa kasus ini harus menjadi momentum untuk mereformasi sistem perizinan dan sertifikasi agar lebih transparan. Mereka mendorong pemerintah untuk memperkuat pengawasan digital guna meminimalkan pungutan liar.
Dugaan Keterlibatan Pihak Lain
Meski Irvian dan Noel menjadi dua figur utama dalam kasus ini, penyelidikan KPK tidak berhenti di situ. Ada dugaan keterlibatan pejabat lain maupun pihak swasta yang juga menikmati aliran dana. KPK menyatakan akan terus memanggil saksi-saksi dan menelusuri struktur jaringan pemerasan sertifikasi K3 hingga ke akar-akarnya.
Potensi Penyitaan Aset
Selain proses hukum, KPK juga berencana melakukan penyitaan terhadap aset-aset yang diduga berasal dari praktik korupsi. Kendaraan mewah, properti, serta rekening perbankan menjadi target penyelidikan. Jika terbukti berasal dari tindak pidana, aset tersebut akan disita untuk negara.
Harapan Penyelesaian Kasus
Publik kini menanti langkah tegas KPK dalam menyelesaikan kasus ini. Dengan nilai kerugian negara yang besar dan melibatkan pejabat tinggi, penyelesaian kasus Noel dan Irvian diharapkan bisa menjadi pelajaran berharga sekaligus efek jera bagi pejabat lain. Transparansi, integritas, dan reformasi birokrasi dinilai sebagai kunci utama agar praktik serupa tidak kembali terulang di masa depan.





























































