Tersangka Pemalsu Ijazah Terlibat dalam Kasus Pembunuhan Kepala BRI
Polisi telah mengungkap keterlibatan salah satu tersangka dalam kasus dugaan penculikan dan pembunuhan Kepala KCP Bank BRI di Jakarta Pusat, MIP (35). Tersangka tersebut adalah Dwi Hartono (DH), yang sebelumnya pernah terlibat dalam kasus pemalsuan ijazah. Informasi ini berasal dari pengakuan Kasat Reskrim Polrestabes Semarang, AKBP Andika Dharma.
Menurut AKBP Andika Dharma, kasus pemalsuan ijazah yang melibatkan DH teregister dalam catatan Polrestabes Semarang pada tahun 2012. “Benar, pada tahun 2012 terkait pemalsuan ijazah SMA,” ujar dia kepada wartawan. Ia menambahkan bahwa DH telah divonis hukuman kurang lebih dua tahun penjara atas kasus tersebut.
DH merupakan salah satu dari empat aktor intelektual dalam kasus dugaan penculikan dan pembunuhan MIP. Ia ditangkap di Solo pada Sabtu (23/8/2025). Kejadian ini menjadi perhatian besar bagi masyarakat dan pihak berwajib karena korban adalah seorang pejabat bank yang dikenal sebagai tokoh penting.
Secara keseluruhan, polisi telah menetapkan 15 tersangka dalam kasus ini, termasuk DH. Belasan orang tersebut dibagi berdasarkan perannya dalam kejahatan tersebut. Ada beberapa kelompok yang terbentuk, seperti:
- Klaster Aktor Intelektual: Merupakan pihak yang merencanakan dan memimpin kejahatan.
- Klaster Membuntuti: Bertugas untuk mengawasi korban dan mencari informasi.
- Klaster Penculikan: Melakukan aksi penculikan terhadap korban.
- Klaster Penganiayaan: Melakukan tindakan kekerasan hingga menyebabkan korban meninggal dunia dan melakukan pembuangan jenazah.
AKBP Abdul Rahim, Kasubdit Jatanras Polda Metro Jaya, menjelaskan struktur organisasi para tersangka dalam kasus ini. Menurutnya, setiap klaster memiliki peran spesifik yang saling terkait dalam proses kejahatan. Hal ini menunjukkan adanya rencana yang matang dan koordinasi yang baik antar pelaku.
Dalam penyidikan, polisi juga menemukan bukti-bukti yang menghubungkan DH dengan kasus lain yang sebelumnya pernah ia lakukan. Ini menunjukkan bahwa DH memiliki riwayat kriminal yang cukup kompleks, termasuk dalam hal pemalsuan dokumen.
Pengungkapan ini menunjukkan komitmen pihak berwajib dalam mengungkap kejahatan yang melibatkan pejabat publik. Selain itu, hal ini juga menjadi peringatan bagi masyarakat tentang bahaya dari tindakan kriminal yang bisa berdampak luas, terutama jika melibatkan orang-orang yang memiliki posisi penting.
Proses hukum terhadap semua tersangka masih berlangsung, dan pihak berwajib akan terus memastikan bahwa keadilan ditegakkan. Penyidik juga sedang memeriksa kemungkinan adanya pelaku lain yang belum tertangkap. Dengan demikian, kasus ini akan menjadi contoh penting dalam upaya memberantas kejahatan yang melibatkan korporasi dan institusi publik.






























































