Penipuan Mobil di Jepang Meningkat dengan Teknologi Canggih
Pencurian mobil di Jepang mengalami peningkatan signifikan dalam tiga tahun terakhir. Pelaku kini menggunakan teknologi canggih yang membuat sistem keamanan mobil hampir tidak efektif lagi. Komplotan pencuri bahkan mampu menciptakan kunci duplikat secara langsung di lokasi kejadian hanya dalam hitungan menit.
Kasus pencurian mobil semakin menjadi perhatian serius. Data dari Kepolisian Prefektur Osaka menunjukkan bahwa sepanjang Januari hingga Juni 2025, tercatat 327 kasus pencurian, meningkat sebesar 63,5 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Secara nasional, Badan Kepolisian Jepang melaporkan 6.080 kasus pencurian mobil pada 2024, naik 318 kasus dibanding tahun 2023.
Salah satu insiden yang menonjol terjadi di Nishinari, Osaka, pada 8 Mei 2025. Tiga orang bertopeng berusaha mencuri Toyota Alphard yang terparkir di sebuah rumah. Meskipun akhirnya gagal setelah pemilik rumah keluar, polisi menyebut pelaku hampir berhasil menyalakan mesin kendaraan tersebut.
Modus pencurian semakin canggih. Salah satu alat yang digunakan adalah CAN Invader, perangkat seukuran telapak tangan yang terhubung ke kabel mobil untuk membuka pintu dan menyalakan mesin. Awalnya, alat ini diciptakan untuk situasi darurat ketika kunci hilang, tetapi mulai 2019 digunakan secara ilegal oleh jaringan kriminal.
Selain itu, pencuri juga memanfaatkan key emulator atau dikenal sebagai “Game Boy” karena bentuknya mirip konsol gim. Alat ini mampu menganalisis sinyal kendaraan untuk membuat kunci duplikat di tempat tanpa merusak bodi mobil. Harganya mencapai 2 hingga 3 juta yen atau sekitar Rp180 juta hingga Rp270 juta.
Toyota menjadi merek yang paling banyak dicuri. Model seperti Land Cruiser, Prius, Alphard, hingga Lexus LX mendominasi daftar kendaraan yang sering dikuras. Mobil-mobil curian umumnya diselundupkan ke Asia Tenggara dan Timur Tengah karena nilai jual kembali yang tinggi.
Polisi Osaka mengatakan bahwa kombinasi permintaan pasar internasional, lemahnya regulasi perangkat elektronik pencuri, serta lambatnya pengembangan teknologi keamanan menjadi penyebab utama maraknya kasus ini. Meskipun demikian, Toyota terus memperbarui teknologi anti-pencurian demi melindungi konsumen.
“Kami melakukan segala upaya dengan memperkenalkan teknologi baru untuk meningkatkan fungsi pencegahan pencurian. Kami akan terus memperkuat upaya pengumpulan informasi untuk meningkatkan efektivitas langkah-langkah anti-pencurian,” ujar perwakilan Toyota Motor Corp.
Fenomena peningkatan pencurian mobil di Jepang menjadi peringatan bagi pemilik kendaraan. Upaya sederhana seperti memasang baut anti-pencurian pada pelat nomor, menambahkan kunci roda, hingga menggunakan kamera pengawas masih dianggap langkah efektif. Namun, tanpa regulasi yang lebih ketat terhadap peredaran alat elektronik pencuri, kejar-kejaran antara teknologi keamanan dan kecanggihan pencuri tampaknya akan terus berlanjut.






























































