Riza Chalid, Tokoh yang Kembali Jadi Sorotan
Nama Riza Chalid kembali muncul dalam pemberitaan setelah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) terkait tata kelola minyak mentah dan produk kilang PT Pertamina Subholding serta Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) pada periode 2018 hingga 2023. Selain itu, ia juga dituduh sebagai aktor intelektual di balik aksi demonstrasi anarkis dan penjarahan rumah publik figur yang terjadi awal September.
Riza Chalid lahir pada tahun 1960 dan dikenal sebagai “The Gasoline Godfather” karena dominasinya dalam perdagangan minyak bumi. Ia mengendalikan jalur impor minyak melalui Petral (Pertamina Energy Trading Ltd), anak usaha Pertamina yang berbasis di Singapura. Dari kota tersebut, ia menjalankan bisnisnya yang mencakup perusahaan seperti Supreme Energy, Paramount Petroleum, dan Cosmic Petroleum.
Selain sektor energi, bisnis Riza Chalid juga merambah ke ritel mode, perkebunan sawit, dan industri minuman. Meski sempat membangun Kidzania di Jakarta, keluarga Riza lebih banyak menetap di Singapura. Pada tahun 2015, Globe Asia menempatkannya sebagai orang terkaya ke-88 di Indonesia dengan kekayaan sebesar USD 415 juta.
Kontroversi yang Mengiringi Karier Riza Chalid
Nama Riza Chalid bukanlah asing dalam berbagai kasus besar. Ia pernah mewakili PT Dwipangga Sakti Prima milik keluarga Cendana dalam pembelian pesawat Sukhoi dari Rusia pada tahun 1997. Sebelumnya, ia juga terlibat dalam pengadaan Hercules yang bermasalah.
Pada tahun 2008, Riza dikaitkan dengan pembelian minyak mentah Zatapi oleh Petral dari dua perusahaan yang terafiliasi dengannya. Harga yang dianggap terlalu mahal menyebabkan kerugian negara hingga Rp 65,5 miliar. Meski begitu, kasus ini dihentikan oleh Bareskrim karena dinilai tidak merugikan negara secara hukum.
Audit forensik Petral tahun 2015 mengungkap kebocoran informasi tender minyak, termasuk harga perkiraan sendiri (HPS), yang diduga dibocorkan ke perusahaan terafiliasi dengan Riza. Menteri ESDM saat itu, Sudirman Said, menyebut kebocoran ini membuat Pertamina selalu kalah dalam tender.
Riza juga tercatat dalam pertemuan dengan Setya Novanto dan Maroef Sjamsoedin, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, dalam kasus “Papa Minta Saham” yang sempat mengguncang politik nasional. Meski sempat diusut sebagai permufakatan jahat, kasus tersebut dihentikan dan Riza tidak lagi diperiksa.
Pengaruh Politik dan Tuduhan Baru
Riza Chalid disebut sebagai penyokong dana kampanye Prabowo Subianto pada Pemilu 2014, termasuk pembiayaan tabloid Obor Rakyat dan pembelian Rumah Polonia sebagai markas pemenangan Prabowo-Hatta. Kini, ia ditetapkan sebagai tersangka dalam kapasitasnya sebagai beneficial owner PT Orbit Terminal Merak.
Ia juga diduga membiayai aksi demonstrasi anarkis yang berujung pada penjarahan rumah publik figur dan pembakaran gedung DPRD di Makassar. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyatakan bahwa penyelidikan masih berlangsung dan Polri akan menindak berdasarkan bukti lapangan.
Presiden Prabowo Subianto turut angkat bicara, menyebut aksi tersebut sebagai tindakan terencana dan bukan bagian dari penyampaian aspirasi.





























































