Penyelidikan Terkait Pembunuhan Kepala Kantor Cabang Pembantu BRI
Dalam kasus kematian Kepala Kantor Cabang Pembantu (KCP) BRI Cempaka Putih, Muhamad Ilham Pradipta, dua anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI Angkatan Darat terlibat langsung dalam peristiwa tersebut. Mereka adalah Sersan Kepala Mohammad Nasir dan Kopral Dua Feri Herianto.
Menurut informasi yang diperoleh, kedua prajurit tersebut berperan dalam penculikan hingga penganiayaan korban. Awal keterlibatan mereka bermula dari ajakan seorang pria bernama Yohanes Joko, yang merupakan tetangga dari Serka Nasir. Yohanes menawarkan pekerjaan kepada Serka Nasir untuk menculik korban. Selain itu, ia juga memberikan uang sebesar Rp 150 juta sebagai biaya operasional.
Serka Nasir kemudian membagikan sebagian uang tersebut kepada Kopda Feri. Penyerahan uang puluhan juta rupiah dilakukan ketika keduanya bertemu di sebuah kafe di daerah Rawamangun. Uang tersebut digunakan oleh Kopda Feri untuk membentuk tim penculik almarhum Ilham.
Kopda Feri memberikan dana sebesar Rp 45 juta kepada pimpinan tim penculik, Erasmus Wawo. “Uang tersebut kemudian dibagikan kepada empat rekan lainnya masing-masing dengan besaran Rp 8 juta,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Wira Satya Triputra.
Polisi telah mengungkap adanya empat kluster dalam kasus pembunuhan ini, dengan total 15 pelaku. Klaster pertama terdiri dari para otak intelektual, yaitu Candy alias Ken, Dwi Hartono, Yohanes Joko, serta Antonius. Mereka bertugas merencanakan tindakan kejahatan yang akan dilakukan.
Klaster kedua terdiri dari orang-orang yang bertugas melakukan pengintaian. Kelompok ini melibatkan Rohmat Sukur, Eka, dan Wiranto. Mereka bertugas mengawasi korban sebelum operasi penculikan dimulai.
Selanjutnya, ada tim penculik yang terdiri atas Erasmus Wawo, Emanuel Woda Berto, Johanes Ronald Sebenan, Andre Tomatala, serta Reviando. Tim ini bertugas melakukan penculikan terhadap korban.
Setelah korban diculik, tim penculik menyerahkan korban kepada pelaku penganiayaan, yaitu Nasir, David, dan Neo. Ketiga orang tersebut kemudian membuang korban dan meninggalkan tempat kejadian.
Fajar Febrianto ikut berkontribusi dalam penulisan artikel ini.






























































