Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun di Samarinda mengalami patah kaki setelah diduga menjadi korban kekerasan fisik oleh dua temannya. Saat ini, ia sedang menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Kejadian ini menimbulkan perhatian serius dari berbagai pihak, termasuk lembaga perlindungan anak dan dinas pendidikan setempat.
Menurut informasi yang diperoleh, insiden ini terjadi ketika korban mencoba menegur seorang teman yang sedang menangis. Teguran tersebut memicu reaksi agresif dari dua teman korban, yaitu A dan B. Menurut penjelasan dari Ketua Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Kalimantan Timur, Rina Zainun, korban dicekik oleh pelaku A. Saat korban mencoba menepis, pelaku B langsung membantingnya.
Korban kemudian terjatuh dengan posisi kaki tersangkut di dinding. Dugaan kuat menyebutkan bahwa pelaku B menindih kaki korban hingga terdengar suara keras. Dokter yang menangani korban memastikan bahwa kakinya mengalami patah tulang. Rina menegaskan bahwa kasus ini bukanlah sekadar permainan anak-anak, melainkan tindakan kekerasan yang harus ditangani secara serius.
TRC PPA Kaltim menyampaikan bahwa keluarga korban telah bertemu dengan pihak sekolah, namun belum menemukan kesepakatan. Beberapa pernyataan dari pihak sekolah dinilai tidak sesuai dengan harapan keluarga. Atas dasar ini, TRC PPA melakukan koordinasi dengan Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Samarinda untuk meminta penanganan yang lebih serius.
Namun, Kepala Disdik Kota Samarinda, Asli Nuryadin, menyatakan bahwa kejadian ini bukan bentuk bullying. Menurutnya, anak-anak usia sekolah dasar belum sepenuhnya memahami konsep bullying. “Ini hanya kejadian anak SD yang sedang bermain. Mereka belum mengerti, akhirnya terjadi insiden,” jelas Asli.
Menurut informasi yang diterima, masalah ini telah diselesaikan secara kekeluargaan. Orang tua dari siswa yang menyebabkan cedera menunjukkan itikad baik dan bersedia bertanggung jawab terhadap korban. “Tim memanggil orang tua kedua belah pihak. Mereka sepakat menyelesaikan secara kekeluargaan. Orang tua anak yang menyebabkan cedera ikut membantu biaya pengobatan,” katanya.
Meski begitu, Disdik meminta sekolah memperketat pengawasan terhadap aktivitas siswa, terutama saat bermain. Asli menekankan bahwa guru harus lebih memantau anak-anak karena mereka masih belum memahami risiko dari permainan yang dilakukan dengan keras.
“Guru harus lebih memantau anak-anak. Mereka belum paham risiko berlari, naik meja, atau bermain terlalu keras. Ini harus diwaspadai,” ujar Asli.
Kejadian ini juga menjadi pembelajaran bagi seluruh sekolah di Samarinda. Asli berharap insiden serupa tidak terulang lagi. Ia menekankan pentingnya memberikan pemahaman kepada anak-anak tentang fungsi Tim Anti Kekerasan dan pentingnya menjaga etika dalam hubungan antar teman.
“Untuk anak-anak yang lebih besar, perlu diberikan pemahaman tentang fungsi Tim Anti Kekerasan dan mengapa mengolok atau menghina teman itu tidak boleh secara moral dan etika,” jelas Asli.
Alhamdulillah, masalah ini sudah diselesaikan di sekolah. Mudah-mudahan tidak terulang lagi.






























































