Sidang Kasus Penembakan di Bali Kembali Bergulir
Sidang kasus penembakan yang menewaskan warga negara Australia, Zivan Radmanovic, serta melukai Sanar Ghanim kembali berlangsung di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Senin (5/1). Dalam persidangan dengan agenda pemeriksaan terdakwa, sejumlah fakta baru terungkap ke publik, mulai dari kronologi detail aksi penembakan, penggunaan palu untuk merusak pintu vila, hingga pengakuan para terdakwa terkait peran masing-masing dalam insiden yang dikenal sebagai aksi “dar, dar, dor” geng Australia di Bali.
Perkara ini menyeret tiga terdakwa warga negara Australia, yakni Coskun Mevlut, Paea-i-Middlemore Tupou, dan Darcy Francesco Jenson. Ketiganya dihadirkan secara terpisah di hadapan Majelis Hakim. Dalam persidangan, Coskun Mevlut dan Paea-i-Middlemore Tupou lebih dulu memberikan keterangan, sebelum kemudian disusul Darcy Francesco Jenson.
Fakta Mengenai Penggunaan Palu
Dari keterangan Mevlut, terungkap fakta bahwa palu yang digunakan untuk merusak pintu Villa Casa Santisya lokasi terjadinya penembakan bukan diambil olehnya. Ia mengaku mengetahui keberadaan palu tersebut, namun menegaskan bahwa benda itu diserahkan oleh Darcy Francesco Jenson kepada Tupou.
“Saat palu diserahkan, saya tidak ada di sana. Saya melihat Darcy memberikan palu itu kepada Tupou,” ujar Mevlut melalui penerjemah di ruang sidang. Mevlut menjelaskan, dirinya dan Tupou mendatangi lokasi kejadian dengan menggunakan sepeda motor. Palu tersebut dibawa dengan cara diapit di antara kaki saat berkendara. Setibanya di vila, palu itu digunakan untuk membongkar pintu sebelum mereka masuk ke dalam bangunan.
Ia mengaku tidak melakukan survei lokasi sebelumnya. Alamat target baru diterimanya pada hari kejadian. Tanpa persiapan panjang, mereka langsung menuju vila yang menjadi lokasi penembakan. “Kami langsung ke lokasi. Di dalam vila, kami masuk ke kamar yang berbeda,” ungkap Mevlut.
Tujuan Awal Kedatangan ke Vila
Dalam kesaksiannya, Mevlut menyebut tujuan awal kedatangan mereka ke vila tersebut bukan untuk melakukan pembunuhan, melainkan menagih utang kepada Sanar Ghanim. Ia mengaku sempat menyampaikan maksud kedatangannya secara langsung kepada Sanar. “I’m here to collect something (Saya datang ke sini untuk menagih sesuatu),” kata Mevlut menirukan ucapannya saat itu.
Namun, situasi berubah drastis ketika ia mengeluarkan senjata api. Mevlut menyebut dirinya telah diberi informasi sebelumnya bahwa target bukanlah orang biasa. Karena itu, pistol disebut hanya akan digunakan untuk menakut-nakuti. “Saya diberi tahu kalau orang itu bukan orang biasa. Jadi pistol itu untuk menakuti. Kalau melawan, baru disakiti,” ujarnya.
Menurut Mevlut, penembakan terjadi ketika Sanar mendorong pasangannya ke samping dan bergerak ke bawah kabin, seolah hendak mengambil sesuatu. Ia mengaku sudah memperingatkan korban agar tidak bergerak. “Saya sudah bilang jangan bergerak, tapi dia tetap bergerak. Saya langsung menembak,” ungkap Mevlut.
Peristiwa Penembakan dan Konsekuensi
Ia mengaku tidak mengingat secara pasti jumlah tembakan yang dilepaskan. Namun, berdasarkan perkiraannya, dua hingga empat tembakan mengenai tubuh korban. Setelah tertembak, Sanar disebut berlari ke arah kamar mandi. Dalam kondisi panik, Mevlut mengaku mengirim pesan kepada seseorang di grup komunikasi yang mereka gunakan, meminta arahan terkait apa yang harus dilakukan setelah penembakan terjadi.
Di kamar mandi, Mevlut kembali melepaskan tembakan ke arah pintu kaca shower hingga berlubang. Tak berhenti di situ, ia mengaku berhadapan langsung dengan korban dalam jarak sekitar satu meter. Dalam situasi tersebut, Mevlut kembali menegaskan tuntutan pembayaran. “Saya bilang ini peringatan. Kamu harus membayar,” katanya.
Mevlut juga mengaku sempat memukul korban sebelum akhirnya keluar dari vila. Saat itu, Tupou sudah berada di luar dan berusaha menyalakan sepeda motor untuk melarikan diri dari lokasi. “Saya baru tahu Zivan meninggal setelah sampai di Jakarta dan membaca berita,” tandas Mevlut, merujuk pada korban tewas Zivan Radmanovic yang ternyata bukan target awal penagihan utang.
Kesaksian Paea-i-Middlemore Tupou
Sementara itu, Paea-i-Middlemore Tupou dalam kesaksiannya mengaku turut melepaskan tembakan karena panik dan merasa terancam. Ia menyebut mengira orang yang ditemuinya saat itu adalah Sanar Ghanim, sosok yang menjadi target penagihan utang. “Saya melihat seseorang mengambil sesuatu dari kantongnya dan berlari ke arah saya. Saya takut dan menembak,” kata Tupou dengan suara bergetar di hadapan majelis hakim.
Tupou mengaku tidak yakin apakah tembakan yang dilepaskannya mengenai korban. Ia hanya mengetahui bahwa korban masih berdiri saat dirinya meninggalkan lokasi kejadian. Belakangan, baru diketahui bahwa orang yang ditembaknya adalah Zivan Radmanovic, bukan Sanar Ghanim. “Saya tidak tahu akan membunuh dia,” ucap Tupou sambil menunduk.
Baik Mevlut maupun Tupou kembali menegaskan bahwa mereka tidak berani mengungkap identitas sosok yang memberi perintah penagihan utang. Keduanya menyebut komunikasi dilakukan melalui tiga grup di aplikasi pesan terenkripsi Threema. Grup tersebut, menurut mereka, berisi perintah, informasi target, hingga lokasi senjata api. “Ada seseorang yang mengatur semuanya. Tapi saya takut menyebut namanya, demi keselamatan keluarga saya,” ujar Tupou.
Mevlut menambahkan bahwa mereka hanya menerima arahan penggunaan senjata melalui pesan singkat. Ia mengaku terkejut saat mengetahui pistol yang diberikan ternyata sudah berisi amunisi. “Kami diberi tahu senjata itu mematikan, tapi tujuannya hanya untuk menakuti,” katanya.
Peran Darcy Francesco Jenson
Dalam persidangan juga terungkap bahwa seluruh kebutuhan akomodasi selama di Bali ditanggung oleh Darcy Francesco Jenson. Mulai dari perjalanan dari Malaysia, Jakarta, Surabaya hingga Bali, termasuk vila tempat para terdakwa menginap, semuanya difasilitasi oleh Darcy. Mevlut mengaku awalnya tergiur untuk terlibat karena dijanjikan sejumlah uang. Uang tersebut, menurutnya, akan digunakan sebagai modal untuk menikah. “Saya sebenarnya tidak tertarik, tapi sudah terlanjur terlalu jauh dan takut menolak,” tuturnya.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, ketiga terdakwa warga negara Australia ini kompak menutup rapat identitas aktor intelektual yang diduga menjadi otak utama di balik penembakan maut tersebut. Sikap tersebut diambil dengan alasan keselamatan keluarga masing-masing. Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Badung menegaskan akan terus mendalami peran masing-masing terdakwa. Penelusuran terhadap sosok yang diduga menjadi pengendali utama aksi berujung maut ini akan terus dilakukan guna mengungkap secara utuh rangkaian peristiwa yang menewaskan Zivan Radmanovic dan melukai Sanar Ghanim di Bali.






























































