Peran Kaesang Pangarep dalam Dinamika Politik Indonesia
Sejumlah analis politik menilai bahwa sosok Kaesang Pangarep, Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), memiliki peran penting dalam proses pengembangan politik di Indonesia. Dosen komunikasi politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio atau yang akrab disapa Hensa, menyatakan bahwa Kaesang dipandang sebagai calon penerus Joko Widodo dalam dunia politik. Pernyataan ini berbeda dengan persepsi umum masyarakat yang menganggap Gibran Rakabuming Raka, Wakil Presiden Republik Indonesia, sebagai anak emas Jokowi.
Hensa menjelaskan bahwa pernyataan Jokowi mendukung PSI secara penuh bukan hanya sekadar dukungan biasa, melainkan strategi jangka panjang untuk mempersiapkan Kaesang menuju kontestasi politik besar, terutama pada pemilihan umum 2034. Meskipun demikian, ia juga menilai bahwa pernyataan tersebut bisa menjadi blunder politik karena memicu persaingan ketat antarpartai yang merasa terancam oleh keberadaan PSI.
Menurut Hensa, langkah Jokowi ini dilakukan dengan tujuan memposisikan Kaesang sebagai figur politik masa depan. Ia menilai bahwa Jokowi sedang mencari sosok yang akan menjadi penggantinya pada masa depan. Hal ini berbeda dengan Gibran, yang kini menjabat Wakil Presiden dan tidak lagi dipersiapkan untuk peran lebih besar setelah masa jabatannya berakhir pada 2029.
Pendekatan Jokowi dalam Mengembangkan Kaesang
Hensa menilai bahwa penempatan Kaesang sebagai Ketua Umum PSI adalah langkah strategis dari Jokowi untuk memberikan pendidikan politik yang lebih dalam. Dalam posisi ini, Kaesang memiliki kesempatan untuk bertemu dengan tokoh-tokoh besar, bahkan duduk satu meja dengan tokoh seperti Megawati Soekarnoputri dalam rapat politik. Hal ini dinilai sebagai pendidikan politik yang sangat baik.
Sementara itu, Gibran yang menjabat Wakil Presiden terbatas dalam dinamika politik praktis karena perannya lebih banyak mendampingi presiden tanpa keterlibatan langsung dengan ketua umum partai. Hensa juga menyoroti pernyataan Jokowi yang meminta Kaesang tidak tergesa-gesa maju pada 2029, tetapi menargetkan 2034. Ini menunjukkan bahwa Jokowi sedang mempersiapkan Kaesang secara matang.
Pendekatan ini dibandingkan dengan strategi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang mempersiapkan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai penerus politiknya. Menurut Hensa, perjalanan politik Kaesang lebih terbuka untuk berkembang karena ia menghadapi tantangan dan dinamika politik secara langsung sebagai ketua partai.
Strategi PSI dalam Mencapai Kebesarannya
Dalam Kongres PSI akhir Juli, mantan Presiden Jokowi yakin bahwa PSI akan menjadi partai besar pada 2034 mendatang. Ia menyebut dua alasan di balik keyakinan itu. Pertama, keputusan PSI menjadi partai super terbuka yang mengedepankan kepemilikan bersama sesama anggota partai, akan mendorong semangat dan kerja-kerja partai dalam meraih suara dalam pemilihan umum mendatang.
Kedua, keputusan PSI dalam menerapkan sistem e-voting dalam pemilihan calon ketua umum adalah langkah revolusioner. Hal ini menunjukkan adanya penghargaan antarsesama kader dengan memiliki hak yang sama dalam memilih langsung calon ketua umum partai.
Jokowi juga mengingatkan bahwa untuk menjadi partai besar, ada beberapa hal yang harus ditempuh PSI terlebih dahulu. Ia menyarankan agar kader partai terus bekerja keras, terjun ke masyarakat guna memahami kemauan, keinginan, dan kebutuhannya. “Tapi, jangan tergesa-gesa. Ada step-step-nya. Belum (besar) di 2029, feeling saya akan mulai di 2034 dengan catatan semuanya bekerja keras,” ucap Jokowi.






























































