Ammar Zoni, aktor ternama di Indonesia, kembali menjadi sorotan setelah dikabarkan terlibat dalam kasus peredaran narkoba. Ia dikenal sebagai narapidana kategori high risk yang pernah menjalani hukuman di Lapas Nusakambangan. Kini, ia kembali menghadapi masalah serupa setelah dikabarkan terlibat dalam penyelundupan narkoba di Rutan Salemba, Jakarta Pusat, pada awal tahun 2025.
Dalam beberapa kesempatan, Ammar Zoni menyatakan bahwa dirinya merasa dijebak dalam kasus ini. Ia menegaskan bahwa ada unsur rekayasa yang terjadi dalam penangkapan dan pemberian tuduhan terhadapnya. Saat ini, kasus tersebut sedang berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Ammar Zoni berusaha membuktikan klaimnya selama proses persidangan.
Ia berharap bahwa melalui persidangan, semua fakta akan terungkap dan masyarakat dapat memahami bahwa kasus ini tidak sepenuhnya benar. “Lewat persidangan, saya berharap semuanya terbuka bahwa kasus ini adalah kasus yang direkayasa,” ujarnya saat hadir di PN Jakarta Pusat, Kamis (22/1).
Setelah putusan dari majelis hakim keluar, Ammar Zoni berharap tidak lagi dikembalikan ke Lapas Nusakambangan. Ia ingin menuntaskan sisa hukumannya di Rutan Cipinang, tempat ia saat ini menjalani hukuman. “Saya berharap tidak kembali lagi ke Lapas Nusakambangan. Saya ingin menyelesaikan hukuman di tempat saya sekarang,” tambahnya.
Kasus narkoba yang menjerat Ammar Zoni kali ini adalah yang keempat kalinya. Dalam beberapa kasus sebelumnya, ia disebut-sebut sebagai korban penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Untuk kasus keempat ini, Ammar Zoni diduga terlibat dalam peredaran narkoba di Rutan Salemba bersama beberapa orang lainnya. Ia diduga mengedarkan obat haram saat masih berstatus sebagai narapidana atas kasus narkoba yang ketiga.
Beberapa pihak mulai mempertanyakan apakah ada faktor-faktor lain yang memengaruhi kasus ini. Beberapa pengamat menilai bahwa kasus-kasus seperti ini sering kali memiliki latar belakang yang kompleks dan bisa saja melibatkan banyak pihak.
Selain itu, muncul pertanyaan tentang bagaimana sistem peradilan Indonesia menangani kasus-kasus yang melibatkan tokoh publik. Apakah proses hukum yang berjalan benar-benar adil atau justru dipengaruhi oleh tekanan eksternal.
Masyarakat juga mulai menyoroti pentingnya transparansi dalam proses hukum. Dengan adanya persidangan yang terbuka, diharapkan dapat memberikan rasa keadilan bagi semua pihak yang terlibat, termasuk para pelaku dan korban.
Ammar Zoni tetap berpegang pada prinsip bahwa dirinya tidak bersalah dalam kasus ini. Ia yakin bahwa melalui proses hukum yang berjalan, kebenaran akan terungkap. Namun, bagaimana hasil akhir dari persidangan ini tetap menjadi tanda tanya besar.
Dari segi hukum, kasus ini juga menjadi contoh bagaimana sistem peradilan harus lebih teliti dalam menangani kasus-kasus yang melibatkan narapidana dengan status tinggi risiko. Adanya dugaan rekayasa dalam kasus ini menunjukkan bahwa sistem hukum perlu lebih waspada terhadap kemungkinan manipulasi yang bisa terjadi.
Secara umum, kasus ini juga menjadi peringatan bagi masyarakat bahwa peredaran narkoba tetap menjadi isu yang sangat sensitif dan perlu ditangani dengan sungguh-sungguh. Tidak hanya untuk mencegah penyalahgunaan narkoba, tetapi juga untuk memastikan bahwa setiap orang yang terlibat dalam kasus ini mendapatkan perlakuan yang adil dan sesuai dengan hukum yang berlaku.






























































