Keputihan Selama Kehamilan: Apa yang Perlu Diketahui
Selama masa kehamilan, tubuh mengalami berbagai perubahan yang bisa memengaruhi kesehatan dan kenyamanan seorang ibu. Salah satu hal yang sering terjadi adalah keputihan. Banyak ibu hamil merasa khawatir ketika melihat cairan yang keluar dari vagina. Namun, keputihan selama kehamilan bisa menjadi tanda normal jika diketahui penyebabnya.
Keputihan yang terjadi selama kehamilan biasanya disebut sebagai leukorrhea. Ini merupakan cairan lendir yang muncul akibat perubahan hormon dalam tubuh. Menurut ahli kesehatan holistik, Debra Rose Wilson, Ph.D., keputihan ini bisa muncul sejak satu hingga dua minggu setelah pembuahan, bahkan sebelum masa menstruasi terlewat. Pada akhir kehamilan, keputihan ini biasanya lebih banyak dan terlihat jelas.
Penyebab Keputihan Saat Hamil
Perubahan hormon tubuh adalah salah satu faktor utama yang menyebabkan keputihan selama kehamilan. Hormon seperti estrogen meningkat, sehingga membuat produksi lendir meningkat. Keputihan dianggap normal jika tidak menimbulkan rasa gatal, nyeri saat buang air kecil, atau berbau tidak sedap. Jika cairan tersebut berubah warna menjadi hijau atau kuning pekat, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter.
Perbedaan Antara Keputihan, Air Ketuban, dan Air Kencing
Banyak ibu hamil yang kesulitan membedakan antara keputihan, air ketuban rembes, dan air kencing. Hal ini wajar karena semua jenis cairan tersebut memiliki bentuk dan sifat yang mirip. Namun, ada beberapa ciri yang bisa membantu Anda membedakannya.
Ciri Keputihan
- Warna lendir putih susu
- Tekstur lendir tebal
- Sedikit berbau
- Jumlahnya bisa berubah selama kehamilan
- Tidak merembes atau menembus pakaian dalam
Ciri Air Ketuban Merembes
- Warna bening atau sedikit kekuningan
- Tekstur seperti air
- Sedikit berbau atau tidak berbau sama sekali
- Tetesan air keluar lambat tapi konstan atau tiba-tiba menyembur
- Tidak bisa dihentikan atau dikontrol
Ciri Air Kencing
- Warna bening atau kuning
- Berbentuk seperti air
- Berbau seperti amonia
- Kebocoran dapat terjadi selama kehamilan
- Dapat dihentikan dengan melibatkan otot panggul
Penyebab Air Ketuban Rembes
Air ketuban rembes sering kali dikaitkan dengan tanda persalinan. Kontraksi rahim menyebabkan serviks mulai menipis dan melebar, sehingga membran ketuban bisa robek. Hanya sekitar 10 persen ibu hamil yang benar-benar merasakan ketuban mereka pecah. Terkadang, air ketuban juga bisa robek karena bayi lahir prematur, infeksi, trauma pada perut, atau serviks yang pendek.
Tips untuk Mengenali Ciri-ciri Cairan
Untuk memastikan apakah cairan yang keluar adalah keputihan, air ketuban, atau air kencing, Anda bisa melakukan beberapa langkah. Pertama, perhatikan warna dan teksturnya. Keputihan biasanya lebih kental, sedangkan air ketuban lebih encer. Kedua, perhatikan apakah cairan tersebut bisa dihentikan. Air kencing bisa dihentikan dengan mengontraksikan otot dasar panggul, sedangkan air ketuban tidak bisa dihentikan.
Jika Anda masih merasa ragu atau khawatir, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter kandungan. Mereka akan memberikan penjelasan yang lebih lengkap dan membantu Anda memahami kondisi tubuh Anda secara lebih baik.
Dengan memahami perbedaan antara keputihan, air ketuban, dan air kencing, Anda bisa lebih siap menghadapi masa kehamilan. Jangan lupa untuk tetap menjaga kesehatan dan kenyamanan diri serta rutin memeriksa kesehatan kehamilan.






























































