Peran AI dalam Kehidupan Manusia dan Dampaknya pada Otak
Dalam era digital saat ini, teknologi kecerdasan buatan (AI) telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Seperti media sosial, AI kini hadir dalam berbagai aspek kehidupan manusia, baik dalam pekerjaan, pendidikan, maupun interaksi sosial. Meskipun AI memberikan banyak manfaat, seperti memudahkan tugas-tugas yang rumit atau menghemat waktu, penggunaannya juga memiliki sisi negatif yang perlu diperhatikan.
Dalam sebuah episode podcast The Diary of a CEO, Steven Bartlett mengundang dua ahli ternama untuk membahas isu-isu terkait AI. Mereka adalah Dr. Daniel Amen, seorang psikiater dan ahli gangguan otak, serta Dr. Terry Sejnowski, ilmuwan neurosains dan ahli AI. Diskusi ini menyoroti beberapa poin penting tentang dampak AI terhadap kemampuan otak manusia dan hubungan antara manusia dengan teknologi tersebut.
Dampak Penggunaan AI terhadap Kemampuan Otak
Salah satu topik utama dalam diskusi ini adalah efek AI terhadap fungsi kognitif manusia. Berdasarkan penelitian dari MIT, ditemukan bahwa partisipan yang menggunakan Chat GPT untuk menulis esai mengalami penurunan kemampuan kognitif. Misalnya, 83% dari mereka tidak mampu mengingat isi esai mereka hanya beberapa menit setelah menyelesaikan tulisan.
Dr. Daniel Amen menjelaskan bahwa hal ini terjadi karena ketidakterlibatan manusia dalam proses penulisan. Ketika seseorang sepenuhnya menyerahkan tugas kepada AI, otak tidak dilibatkan secara aktif, sehingga informasi tidak disimpan dengan baik. Ia menyebut fenomena ini sebagai pengurangan cognitive load—seberapa besar beban kerja otak.
Dr. Terry Sejnowski menambahkan bahwa mengandalkan AI sepenuhnya adalah cara yang salah dalam menggunakan teknologi ini. Menurutnya, manusia perlu belajar melalui kesalahan dan pengalaman. Jika AI menggantikan proses belajar tersebut, maka otak akan kehilangan kesempatan untuk berkembang.
Hubungan antara AI dan Manusia
Diskusi selanjutnya membahas hubungan antara manusia dengan AI, termasuk dalam konteks hubungan romantis. Dr. Daniel Amen menjelaskan bahwa anak-anak di bawah usia 12 tahun, yang masih dalam masa perkembangan otak, rentan terpengaruh oleh AI. Bagian otak yang bertanggung jawab atas pemikiran kritis belum sepenuhnya berkembang, sehingga mereka lebih mudah terdistraksi oleh interaksi dengan AI.
Menurut Dr. Daniel, AI bisa memicu pelepasan dopamin secara cepat, membuat seseorang terus-menerus terhubung dengan teknologi tanpa melakukan aktivitas yang bermanfaat bagi otak. Selain itu, AI tidak memiliki sistem limbik, yang merupakan bagian otak yang mengatur emosi dan perilaku. Namun, AI dapat memalsukan respons emosional dengan memahami pola interaksi manusia.
Solusi dan Tantangan yang Harus Diperhatikan
Meski AI memiliki potensi besar, para ahli menekankan pentingnya penelitian mendalam untuk memahami dampak jangka panjangnya. Dr. Terry Sejnowski menyatakan bahwa ia tidak bisa memprediksi akhir dari penggunaan AI, tetapi menilai bahwa ada risiko yang harus dipertimbangkan. Sementara itu, Dr. Daniel Amen mengkhawatirkan bahwa generasi muda saat ini bisa terganggu oleh penggunaan AI yang tidak terkontrol.
Ia menyarankan agar para ahli melakukan penelitian lebih lanjut, terutama terkait dampak AI pada anak-anak. Ia juga menegaskan bahwa manusia perlu sadar bahwa AI bisa digunakan untuk meningkatkan kemampuan berpikir, bukan menggantikannya. Dengan melibatkan diri dalam proses pembelajaran dan pemecahan masalah, manusia bisa memaksimalkan manfaat AI tanpa mengorbankan fungsi otak.
Kesimpulan
AI memang menjadi alat yang sangat berguna dalam kehidupan modern, tetapi penggunaannya harus bijak. Para ahli menekankan bahwa manusia perlu terlibat aktif dalam proses belajar dan pengambilan keputusan, bukan hanya mengandalkan AI. Dengan demikian, AI bisa menjadi mitra yang membantu, bukan pengganti yang merusak kemampuan otak manusia.





























































