Peran Penting Keamanan Siber dalam Era Digital
Di tengah perkembangan teknologi yang pesat, transformasi digital membawa berbagai manfaat namun juga menimbulkan tantangan baru. Salah satunya adalah meningkatnya ancaman kejahatan siber seperti pencurian data pribadi dan penipuan. Hal ini semakin mengkhawatirkan terutama bagi pengguna layanan keuangan.
Wakil Presiden PT Bank Central Asia (BCA), Sugianto Wono, menjelaskan bahwa pihaknya mengedepankan tiga aspek utama dalam menjaga keamanan siber, yaitu people, process, dan technology. Ketiga aspek ini menjadi fondasi utama untuk melindungi data nasabah dari berbagai ancaman.
Salah satu tantangan terbesar dalam keamanan siber adalah pada aspek people. Kelalaian individu sering dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk melakukan aksi mereka. Menurut Sugianto, keamanan siber tidak hanya soal teknologi, tetapi juga kesadaran masyarakat. Ia menekankan bahwa perlindungan data pribadi adalah tanggung jawab bersama antara institusi dan masyarakat.
Untuk itu, BCA terus memperkuat sistem keamanan internal sekaligus memberikan edukasi kepada nasabah agar lebih waspada terhadap modus penipuan digital. Salah satu contoh kejahatan yang marak belakangan ini adalah Fake Base Transceiver Station (Fake BTS). Perangkat ini menyerupai menara seluler resmi dan digunakan untuk mengirimkan SMS palsu seolah-olah berasal dari bank atau operator. Tujuannya adalah mengelabui korban agar mengklik tautan phishing dan menyerahkan data pribadi.
Selain itu, kejahatan berbasis Artificial Intelligence (AI) juga meningkat. Contohnya adalah pembuatan video, foto, maupun audio palsu (deepfake) yang menyerupai korban demi mencuri informasi atau mengambil alih akun keuangan. Untuk menghadapi ancaman ini, BCA mengoptimalkan penggunaan teknologi AI secara etis dan sesuai aturan. Mereka mengembangkan sistem deteksi dini berbasis fraud detection dan machine learning untuk mengidentifikasi ancaman secara real-time.
Perusahaan juga menerapkan prinsip zero trust, otentikasi berlapis, serta audit keamanan berkala untuk menjaga ketahanan sistem. Meski begitu, BCA menegaskan bahwa teknologi saja tidak cukup. Aspek manusia tetap menjadi celah paling rawan. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk lebih kritis dan tidak sembarangan menekan tautan atau membagikan informasi dari sumber yang tidak jelas.
Kerja Sama dalam Meningkatkan Keamanan Transaksi Digital
Dalam upaya menjaga keamanan transaksi digital, PT Rintis Sejahtera, pengelola Jaringan PRIMA sekaligus lembaga switching nasional, juga turut berkomitmen. Alhasil, PRIMA bekerja sama dengan BCA untuk terus mengedukasi masyarakat tentang kewaspadaan terhadap modus penipuan online.
Jaringan PRIMA memperkuat kerjasama dengan mitra ekosistem pembayaran untuk menjaga keamanan transaksi. Mereka juga melakukan pemantauan serta deteksi dini atas anomali transaksi guna mencegah terjadinya tindak penipuan. SEVP Information Systems Security PT Rintis Sejahtera, Jeffrey Sukardi, menjelaskan bahwa pihaknya memantau serta mendeteksi anomali transaksi pada Fraud Detection System perusahaan.
Upaya ini penting agar mitra dapat segera menanggulangi jika terjadi penipuan dan memastikan nasabah tetap aman dalam bertransaksi. Dengan kolaborasi antara institusi dan masyarakat, diharapkan keamanan siber dapat terjaga secara optimal.






























































