Demonstrasi Mahasiswa di Yogyakarta Berakhir dengan Bubaran Massal
Sejumlah kelompok yang mengatasnamakan warga Yogyakarta berhasil membubarkan aksi demonstrasi mahasiswa di depan Markas Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (Polda DIY), pada Selasa malam, 24 Februari 2026. Aksi tersebut berlangsung di Jalan Ring Road, yang sebelumnya diblokir oleh para peserta unjuk rasa sejak pukul 18.00 WIB.
Massa mahasiswa yang awalnya berkumpul di lokasi menunjukkan sikap proaktif dalam menyampaikan aspirasinya. Namun, tiba-tiba muncul kelompok lain yang mengklaim sebagai warga setempat. Mereka datang dari sisi barat dan membawa berbagai alat seperti pentungan kayu hingga besi. Teriakan “Bubar, bubar, bubar! Kami dari warga! Jangan ganggu ketentraman dan lalu lintas di Yogya!” terdengar jelas dari massa yang membubarkan aksi.
Akibatnya, sebagian besar peserta demonstrasi mulai bubar dan berlari ke arah jalan sisi barat Mall Pakuwon. Akhirnya, Jalan Ring Road Utara yang sebelumnya tertutup kembali dapat dilalui sekitar pukul 20.30 WIB.
Aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes terhadap institusi Polri pasca-kematian seorang pelajar di Tual, Maluku, yang dilakukan oleh anggota Brimob Maluku pada 19 Februari 2026. Kelompok mahasiswa yang terlibat dalam aksi ini mengecam tindakan yang dianggap tidak manusiawi terhadap korban.
Perasaan Marah dan Kehilangan Kepercayaan
Salah satu peserta unjuk rasa, Ude, menjelaskan bahwa aksi ini merupakan akumulasi kemarahan masyarakat atas peristiwa penganiayaan yang dilakukan oleh anggota Brimob Polda Maluku. Menurutnya, ada seorang anak berusia 14 tahun yang tidak melakukan kesalahan apa pun, tetapi tiba-tiba dihantam helm hingga meninggal dunia.
“Kami merasa bahwa yang busuk bukan hanya oknum, tapi seluruh institusi Polri. Oleh karena itu, aksi ini adalah upaya untuk meluapkan kemarahan kami,” ujar Ude di sela-sela aksi.
Menurut Ude, aksi ini bersifat spontan dan cair, tanpa adanya panggung orasi atau draf tuntutan formal. Hal ini menunjukkan bahwa kekecewaan masyarakat terhadap reformasi Polri yang tidak memberikan hasil nyata.
Kekacauan di Sekitar Polda DIY
Selama aksi berlangsung, situasi sempat memanas di pagar sisi timur. Massa memukul pagar hingga roboh, disambut dengan teriakan “Pembunuh, pembunuh, pembunuh” serta aksi pelemparan benda ke dalam halaman yang telah dipasangi kawat berduri sejak siang hari.
Beberapa toko dan mall sekitar Polda DIY memilih tutup lebih awal karena khawatir akan keributan. Meski demikian, para peserta unjuk rasa tetap bertahan hingga akhirnya dibubarkan oleh kelompok warga yang mengklaim diri sebagai pendukung ketenangan dan keamanan di Yogyakarta.
Penutup
Aksi yang berlangsung di Yogyakarta mencerminkan kekecewaan masyarakat terhadap sistem yang dianggap gagal dalam melindungi warga negara. Dengan adanya tindakan yang dianggap tidak manusiawi, muncul keinginan kuat untuk menuntut perubahan dan transparansi dari institusi Polri.





























































