Kotacimahi.com-Memiliki rumah bagi masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda, semakin sulit tercapai. Kenaikan harga properti yang tidak sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, suku bunga kredit yang tidak stabil, serta biaya uang muka yang besar, membentuk kombinasi yang membuat pembelian rumah pertama menjadi sulit.
Pada situasi ini, insentif fiskal yang diberikan pemerintah menjadi salah satu harapan. Perpanjangan insentif Pajak Pertambahan Nilai yang Ditanggung Pemerintah (PPN-DTP) hingga Desember 2025 dianggap sebagai kesempatan bagi sebagian masyarakat untuk akhirnya mengambil langkah pertama dalam membeli rumah.
Tren historis menunjukkan bahwa insentif penghapusan PPN berdampak nyata terhadap meningkatnya minat pembelian rumah, khususnya untuk kalangan pembeli pertama. Ketika insentif diberlakukan kembali pada Januari 2025, kami mencatat peningkatan minat sebesar 48 persen dibanding tahun sebelumnya,” kata Andry Law, Vice President Marketing Rumah123 di acara PropVaganza 2025, Kamis (31/7).
Namun, Andry juga menegaskan bahwa insentif bukanlah jawaban utama. Masih terdapat tantangan besar yang perlu dihadapi, seperti harga yang tidak terjangkau dan distribusi pasokan perumahan yang tidak merata.
“Oleh karena itu, fungsi platform digital dalam menghubungkan pencari rumah dengan berbagai pilihan yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan mereka sangatlah krusial. Marketplace seperti kami berupaya menyediakan pengalaman pencarian yang lebih fokus, jelas, dan sesuai,” tambah Andry Law.
Di sisi lain, data internal Rumah123 juga menunjukkan pola yang selaras. Setiap kali ada stimulus yang diberikan, permintaan terhadap rumah meningkat secara signifikan.
Misalnya, pada Juni 2025, sebulan sebelum insentif diperpanjang, permintaan perumahan meningkat 42 persen dibanding tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa banyak masyarakat menunda keputusan pembelian hingga ada kejelasan mengenai kebijakan insentif tersebut.
Namun, meningkatnya minat tidak selalu diikuti dengan penyelesaian transaksi. Hal ini disebabkan oleh berbagai tantangan seperti keterbatasan dana awal, akses terhadap pembiayaan, serta kurangnya pilihan rumah yang terjangkau di lokasi strategis, yang masih menjadi hambatan besar.
Kondisi ini mendorong berbagai platform dan pengembang untuk mengadopsi pendekatan yang lebih inklusif, misalnya dengan menyediakan data tentang rumah bekas, properti lelang, atau rumah yang dijual cepat yang biasanya ditawarkan dengan harga yang lebih murah.
Alternatif ini sering kali menjadi pilihan bagi mereka yang kesulitan mendapatkan rumah baru dari pengembang besar. Dengan perkembangan teknologi, solusi digital dan analisis data kini memiliki peran penting dalam menciptakan pasar properti yang lebih transparan dan efektif.
Namun demikian, selama rumah tetap dianggap sebagai barang investasi dan bukan kebutuhan pokok yang dilindungi oleh pemerintah, maka ketimpangan dalam kepemilikan perumahan akan terus bertambah.
Bagi yang sedang mencari rumah baru, baik untuk pertama kalinya atau sebagai investasi, PropVaganza 2025 oleh Rumah123 kini berlangsung di Gandaria City hingga tanggal 3 Agustus. Pameran ini disebut sebagai kelanjutan dari komitmen Rumah123 sebagaimarketplaceaset terbesar di Indonesia yang terus hadir lebih dekat serta memberikan dukungan kepada masyarakat dalam mencapai rumah idaman mereka.






























































