Kotacimahi.com, JAKARTA –Peristiwa penipuan dengan modus penggunaan cinta semakin meningkat di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Banyak para korban mengalami kerugian baik secara finansial maupun psikologis, tetapi enggan melaporkannya ke pihak berwajib karena alasan privasi.
Akibatnya, sebagian besar korban memutuskan mencari bantuan dari pihak ketiga, seperti detektif swasta, guna melacak pelaku dan meminta dukungan hukum.
Detektif pribadi senior, Jubun, menyatakan bahwa sejak tahun 2022, permintaan layanan investigasi kasus penipuan cinta telah mengalami peningkatan yang signifikan.
“Ini adalah jenis kasus yang paling sering diajukan sejak 2022. Banyak orang datang ke saya setelah menyadari telah menjadi korban penipuan,” kata Jubun dalam pernyataannya, Jumat (1/8/2025).
Disebutkan bahwa kebanyakan penipuan dimulai dari pertemuan melalui media sosial atau aplikasi kencan.
Setelah membangun hubungan emosional, pelaku mulai mengisahkan kisah yang menyentuh guna meminta uang dari korban.
Beberapa cara yang umum digunakan antara lain: mengaku sedang terjebak di bandara atau negara asing dan membutuhkan uang tebusan, menyatakan memiliki warisan besar yang hanya bisa diberikan jika korban membantu secara finansial.
“Setelah korban jatuh cinta, pelaku mulai meminta uang. Ceritanya bermacam-macam, semuanya dirancang agar korban percaya,” kata Jubun.
Pelaku berasal dari sindikat global dan memanfaatkan teknologi canggih.
Banyak pelaku adalah warga negara asing yang bekerja dalam jaringan kejahatan internasional. Mereka memiliki tugas masing-masing dalam memperdaya korban.
“Beberapa berperan sebagai kekasih, ada yang menjadi petugas bandara palsu, semuanya terstruktur,” kata Jubun.
Lebih mengejutkan lagi, kelompok ini juga memanfaatkan teknologi seperti Kecerdasan Buatan (AI) untuk menipu korban, contohnya dengan menciptakan wajah palsu saat panggilan video.
“Sekarang mereka dapat memanfaatkan AI untuk menampilkan wajah orang lain, seakan-akan sedang melakukan panggilan video nyata,” tambahnya.
Dalam menangani kasus penipuan cinta, detektif Jubun mengungkapkan bahwa ia menerapkan berbagai teknik pelacakan, seperti pencarian alamat IP dan lokasi pelaku, penyelidikan media sosial serta jaringan komunikasi pelaku, serta bekerja sama dengan detektif luar negeri jika terlibat warga negara asing.
“Kami memiliki berbagai metode pelacakan, tetapi saya tidak dapat mengungkap semuanya agar menjaga strategi,” katanya.
Untuk menghindari menjadi korban, berikut saran dari detektif Jubun yaitu jangan langsung percaya kepada seseorang yang baru kamu kenal melalui internet.
“Pastikan identitas seseorang sebelum membangun hubungan, waspada terhadap permintaan uang, khususnya jika baru kenal, dan segera konsultasi dengan ahli jika mulai merasa curiga menjadi korban penipuan,” ujar.
Intinya, menurutnya, jika ada seseorang baru yang langsung meminta transfer uang, itu sudah menjadi tanda bahaya. (Eko Sutriyanto)






























































