Tanggapan Ketua Umum PBFI terhadap Kritik Terhadap Aktivitas Ngegym
Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Binaraga dan Fitness Indonesia (PP PBFI), Irwan Alwi, memberikan respons terhadap pernyataan seorang kreator konten yang menyampaikan pandangan negatif terhadap aktivitas ngegym. Menurutnya, pendapat tersebut sangat tidak tepat dan tidak mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang olahraga angkat beban.
Irwan menegaskan bahwa semua bentuk olahraga, termasuk angkat beban, memiliki manfaat kesehatan yang signifikan. Ia menjelaskan bahwa kegiatan di gym membutuhkan edukasi dan proses yang tidak mudah. “Setiap olahraga pasti memberikan manfaat kesehatan. Gym juga butuh pengetahuan dan proses yang cukup panjang,” ujarnya.
Menurut Irwan, membentuk tubuh yang sehat dan berotot bukanlah hal instan atau dangkal. Proses ini melibatkan disiplin, pemahaman akan nutrisi, teknik latihan yang benar, serta konsistensi dalam menjalani pola hidup sehat. Ia menekankan bahwa olahraga seperti gym bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga melibatkan aspek mental dan intelektual.
Selain itu, Irwan mengungkapkan bahwa banyak pelaku gym dan atlet binaraga berasal dari latar belakang pendidikan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak melakukan olahraga tanpa pemahaman atau wawasan. “Ini membuktikan bahwa olahraga seperti gym bukan aktivitas yang dilakukan sembarangan,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya sikap dan cara seseorang dalam menghargai orang lain. “Kecerdasan seseorang tidak hanya diukur dari pengetahuan akademis, tetapi juga dari sikap dan cara menghargai orang lain. Jika ada yang meremehkan profesi atau orang lain, itu bukan tanda kecerdasan,” katanya.
Irwan menekankan bahwa para atlet binaraga telah memberikan kontribusi nyata bagi bangsa melalui prestasi mereka di bidang olahraga. “Mereka adalah patriot bangsa yang mengharumkan nama Indonesia lewat olahraga,” ujarnya.
Pernyataan kritik yang dilontarkan oleh Timothy Ronald dalam sesi live streaming sempat viral di media sosial. Dalam tayangan tersebut, ia menyindir bahwa aktivitas gym bersifat repetitif, membosankan secara kognitif, dan menggambarkan pelakunya sebagai orang dengan “otak kosong”.
“Menurut saya, orang yang suka ngegym itu bisa saja memiliki badan yang kuat, tapi tidak mungkin sepintar itu. Karena itu aktivitas paling gobl* yang pernah saya temui. Bukan secara kesehatan ya. Secara mental, orang pintar tidak mungkin suka. Lu kayak ngebetot doang, lu maksa kan. Itu otaknya kosong, lu cuma maksa,” ujar Timothy.
Dari sudut pandang Irwan, pernyataan tersebut tidak hanya tidak objektif, tetapi juga tidak menghargai usaha dan dedikasi para atlet binaraga. Ia menilai bahwa setiap olahraga memiliki nilai dan manfaat yang tidak dapat dipandang remeh. Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat untuk lebih memahami dan menghargai berbagai bentuk olahraga yang ada.






























































