Latar Belakang dan Kronologi Kematian Prada Lucky Namo
Prada Lucky Chepril Saputra Namo adalah seorang prajurit TNI yang baru dua bulan resmi bertugas. Ia meninggal dunia pada Agustus 2025 setelah diduga menjadi korban penganiayaan oleh senior-seniornya. Kematian tragisnya memicu perhatian publik dan tuntutan keadilan dari keluarga. Saat ini, kasus ini sedang ditangani oleh Polisi Militer TNI dengan pengusutan yang disebut transparan.
Lucky bertugas di Yonif TP 834/Wakanga Mere, NTT. Ia dilantik sebagai prajurit TNI pada Juni 2025 setelah menyelesaikan pendidikan militer di Bali. Pada awal Agustus 2025, ia ditemukan dengan luka lebam, sayatan, dan bekas luka bakar. Lucky kemudian dibawa ke RSUD Aeramo, Nagekeo, untuk mendapatkan perawatan intensif. Kondisinya kritis hingga harus dirawat di ruang ICU rumah sakit tersebut. Sayangnya, nyawa Lucky tidak tertolong dan ia meninggal pada 6 Agustus 2025.
Polisi Militer TNI telah mengamankan empat prajurit yang diduga sebagai pelaku. Sekitar 20 saksi dari satuan yang sama telah dimintai keterangan. Pihak keluarga menduga jumlah pelaku sebenarnya lebih banyak dari yang ditangkap. Ibunya mengungkapkan informasi yang diterima bahwa pelaku bisa mencapai 20 orang. Keluarga juga berharap pengusutan dilakukan secara transparan tanpa melindungi pelaku. Pangdam IX Udayana telah memerintahkan proses hukum dilakukan secara profesional.
Perjalanan dan Tekad Menjadi Prajurit TNI
Lucky dikenal memiliki cita-cita kuat untuk menjadi seorang prajurit TNI. Ia telah beberapa kali mencoba tes masuk sebelum akhirnya berhasil diterima. Setelah lolos seleksi, Lucky mengikuti pendidikan militer di Rindam IX Udayana. Pendidikan ini ia jalani di Singaraja, Bali, hingga lulus pada Februari 2025. Pada Juni 2025, ia resmi dilantik sebagai Prada dan ditempatkan di NTT. Meski baru bertugas dua bulan, ia sudah dikenal sebagai sosok pendiam dan rendah hati.
Rekan-rekan menyebut Lucky tidak sombong dan selalu menghormati senior. Ia juga menjadi tulang punggung keluarga, membantu orang tua dan adik-adiknya. Kedekatan Lucky dengan keluarganya membuat kabar kematiannya sangat mengguncang. Ayahnya, Serma Christian Namo, juga seorang prajurit TNI di Kodim 1627 Rote Ndao. Sang ibu berharap tidak ada lagi prajurit yang mengalami nasib serupa. Ia menuntut agar semua pelaku dihukum sesuai hukum militer yang berlaku.
Respons Publik dan Harapan Keadilan
Kematian Prada Lucky menjadi perhatian luas di media sosial dan pemberitaan nasional. Banyak pihak menilai kasus ini sebagai ujian transparansi hukum di tubuh TNI. Dukungan moral mengalir untuk keluarga, baik dari masyarakat sipil maupun purnawirawan. Organisasi masyarakat juga mendorong adanya evaluasi sistem pembinaan prajurit baru.
Psikolog militer menilai kekerasan antar anggota bisa berakar dari budaya senioritas. Jika tidak diubah, kekerasan seperti ini bisa terus berulang di masa depan. Tuntutan agar TNI memperketat pengawasan terhadap anggota senior semakin menguat. Keluarga berharap kasus ini menjadi yang terakhir bagi prajurit muda di Indonesia.
Biodata Prada Lucky Namo
- Nama lengkap: Prada Lucky Chepril Saputra Namo
- Usia saat meninggal: 23 tahun (lahir sekitar 2002)
- Pangkat: Prajurit Dua (Prada) TNI Angkatan Darat
- Satuan: Yonif TP 834/Wakanga Mere, Kabupaten Nagekeo, NTT
- Lama bertugas: Dua bulan (dilantik Juni 2025, lulus pendidikan Februari 2025)
- Keluarga: Anak kedua dari empat bersaudara
- Ayah: Serma Christian Namo, anggota TNI di Kodim 1627 Rote Ndao
- Karakter: Pendiam, rendah hati, tulang punggung keluarga
- Meninggal dunia: 6 Agustus 2025 di RSUD Aeramo, NTT
- Agama: Kristen
Prada Lucky Namo adalah prajurit muda yang tewas diduga akibat penganiayaan seniornya. Kasus ini menjadi sorotan publik dan memunculkan tuntutan besar untuk menegakkan keadilan.





























































