Mantan Ibu Negara Korea Selatan Diperiksa dalam Serangkaian Kasus Hukum
Mantan Ibu Negara Korea Selatan, Kim Keon Hee, tengah menghadapi sejumlah tuduhan hukum yang menimbulkan perhatian publik. Istri mantan Presiden Yoon Suk Yeol ini dituduh melakukan manipulasi saham, campur tangan politik, dan terlibat dalam kasus suap. Jaksa telah membuka penyelidikan terhadap 16 kasus berbeda yang diduga melibatkan Kim.
Pemeriksaan pertama Kim dilakukan pada 6 Agustus 2025 di Seoul. Proses pemeriksaan berlangsung secara tertutup tanpa adanya perekaman video. Kim tiba terlambat sekitar 20 menit dari jadwal semula. Dalam pernyataannya, ia menyampaikan permintaan maaf kepada semua pihak karena tindakan yang dianggapnya menyebabkan masalah. Kim juga menyatakan kesiapan untuk bekerja sama sepenuhnya dalam proses penyelidikan.
Penasihat khusus Min Joong-ki memimpin penyelidikan terhadap 16 kasus tersebut. Beberapa dari kasus yang sedang diteliti antara lain:
Manipulasi Harga Saham Deutsch Motors
Kim diduga terlibat dalam perdagangan ilegal saham perusahaan penjual mobil impor antara tahun 2009 hingga 2012. Tindakan ini disinyalir melanggar aturan keuangan dan pasar modal.
Penerimaan Hadiah dari Gereja Unifikasi
Seorang pejabat tinggi dari organisasi yang sebelumnya dikenal sebagai Gereja Unifikasi diduga memberikan hadiah berupa tas Dior dan kalung berlian senilai sekitar 60 juta won (sekitar USD 43.000) melalui perantara. Hadiah ini disinyalir bertujuan untuk mendapatkan dukungan terhadap proyek gereja di Kamboja.
Intervensi dalam Pemilihan Sela 2022
Kim dituduh terlibat bersama suaminya dalam memengaruhi pencalonan kandidat partai berkuasa saat itu. Penyelidikan menunjukkan bahwa broker politik Myung Tae-kyun menerima pembayaran hingga 90 juta won dari mantan legislator.
Selain itu, ada dugaan bahwa Kim tidak melaporkan kepemilikan kalung mewah yang ia gunakan saat menghadiri KTT NATO 2022 dalam laporan aset resminya. Tindakan ini dianggap melanggar aturan keterbukaan aset bagi pejabat publik.
Tim penasihat khusus telah mengajukan permohonan surat perintah penangkapan pada 7 Agustus atas dugaan suap dan pelanggaran undang-undang pendanaan politik. Kasus ini mencatat sejarah baru di Korea Selatan, karena Kim menjadi mantan ibu negara pertama yang diselidiki sebagai tersangka pidana. Sebelumnya, dua mantan ibu negara, Lee Soon-ja dan Kwon Yang-sook, pernah dipanggil jaksa, namun status mereka hanya sebagai saksi dan prosesnya tidak mendapat banyak perhatian media.
Mantan Presiden Yoon Suk Yeol merespons perkembangan ini melalui Facebook. Ia menyampaikan pesan bahwa dirinya seharusnya menjadi satu-satunya pihak yang menghadapi intimidasi hukum. Pesan ini ditulis dengan tujuan menjauhkan istrinya dari penyelidikan penegak hukum.
Tim penasihat khusus memiliki waktu hingga 29 November 2025 untuk menyelesaikan penyelidikan. Beberapa isu lain seperti proyek jalan tol Seoul Yangpyeong dan lonjakan harga saham Sambu Construction belum masuk ke agenda pemeriksaan awal, sehingga kemungkinan besar Kim akan kembali dipanggil untuk pemeriksaan lanjutan.






























































