Perplexity Mengajukan Tawaran Pengambilalihan Google Chrome
Startup AI Perplexity mengajukan tawaran pengambilalihan terhadap Google Chrome dengan nilai sebesar US$ 34,5 miliar atau setara dengan Rp 559 triliun (berdasarkan kurs Rp 16.194 per US$). Tawaran ini dianggap sebagai langkah signifikan dalam memperkuat komitmen terhadap web terbuka dan pilihan pengguna.
Menurut pernyataan Juru bicara Perplexity yang dikutip oleh BBC, tawaran tersebut bertujuan untuk menjaga keamanan dan kesinambungan bagi pengguna Google Chrome. Dalam suratnya kepada CEO Google Sundar Pichai, Perplexity menyatakan bahwa memindahkan Chrome ke operator independen akan lebih bermanfaat bagi publik.
Perplexity tidak memberikan penjelasan tentang sumber pendanaan tawaran tersebut. Namun, valuasi startup berusia tiga tahun ini diperkirakan mencapai US$ 18 miliar pada Juli lalu.
Dominasi Google di Bawah Pengawasan Ketat
Dominasi Google dalam mesin pencarian dan pasar iklan online telah menjadi perhatian khusus, dengan raksasa teknologi ini menjadi subjek dua kasus antimonopoli di AS. Seorang hakim federal AS diperkirakan akan mengeluarkan putusan bulan ini yang dapat memerintahkan Google untuk memecah bisnis pencariannya, termasuk menjual Google Chrome.
Google menanggapi rencana tersebut dengan menyatakan akan mengajukan banding. Perusahaan menilai gagasan untuk memisahkan Google Chrome sebagai proposal yang belum pernah terjadi sebelumnya dan akan merugikan konsumen serta keamanan.
Google Chrome memiliki estimasi pengguna sebesar tiga miliar. Meskipun demikian, beberapa investor teknologi menganggap tawaran Perplexity sebagai langkah yang tidak serius. Judith MacKenzie dari Downing Fund Managers menyebut tawaran tersebut sebagai “tawaran yang tidak diminta dan belum benar-benar didanai”.
Heath Ahrens dari industri teknologi menggambarkan langkah Perplexity sebagai ‘aksi tipu daya’, karena dianggap jauh dari nilai sebenarnya dari Google Chrome. Ia juga menyatakan bahwa jika tawaran tersebut dilipatgandakan oleh tokoh seperti Sam Altman atau Elon Musk, mereka bisa mendapatkan dominasi besar dalam dunia AI.
Tomasz Tunguz dari Theory Ventures memperkirakan bahwa nilai Google Chrome sepuluh kali lipat dari tawaran Perplexity.
Perplexity dalam Dunia AI
Perplexity adalah salah satu startup yang sedang naik daun dalam perlombaan AI generatif. Bulan lalu, perusahaan meluncurkan peramban pesaing Chrome bernama Comet, yang ditenagai AI. Namun, Comet menjadi sorotan kontroversi, terutama dari organisasi media yang menuduhnya melanggar aturan hak cipta.
Pada Juni, BBC mengirimkan surat hukum kepada Aravind Srinivas, kepala eksekutif Perplexity, yang menuduh perusahaan mereproduksi konten BBC tanpa izin. Perplexity menanggapi dengan menyatakan bahwa klaim BBC hanya bagian dari upaya untuk mempertahankan monopoli ilegal Google.
Selain itu, Perplexity juga sempat menjadi berita utama ketika menawarkan untuk membeli versi Amerika TikTok. Penawaran tersebut terjadi setelah pemilik TikTok di Cina harus menyelesaikan tenggat waktu untuk menjualnya atau dilarang di AS.
Kepemilikan dan Keberlanjutan Chromium
Dalam pengambilalihan yang diusulkan, Perplexity menyatakan akan tetap menggunakan Google sebagai mesin pencari default dalam Chrome, meski pengguna dapat menyesuaikan pengaturan. Perusahaan juga berkomitmen untuk memelihara dan mendukung Chromium, platform sumber terbuka yang banyak digunakan dan mendukung browser seperti Microsoft Edge dan Opera.






























































