Penemuan Baru dalam Deteksi Kanker Laring
Para ilmuwan telah menemukan bahwa lesi kanker pada pita suara dapat memengaruhi suara dengan cara yang sangat halus. Perubahan ini hampir tidak bisa dideteksi oleh telinga manusia, tetapi bisa dikenali oleh algoritma pembelajaran mesin. Temuan ini membuka peluang baru untuk mendeteksi kanker laring atau kanker pita suara lebih awal dibandingkan metode yang ada saat ini.
Di dunia, sekitar 1,1 juta kasus kanker laring terdiagnosis pada tahun 2021, dengan sekitar 100.000 kematian. Saat ini, diagnosis kanker ini masih bergantung pada prosedur invasif seperti video nasal endoskopi dan biopsi. Teknologi skrining digital berbasis rekaman suara berpotensi membantu dokter mendeteksi tanda awal kanker laring, sehingga pasien bisa mendapatkan penanganan lebih cepat.
Ciri Khas Suara sebagai Petunjuk Awal
Dalam studi terbaru, peneliti dari Oregon Health & Science University serta Portland State University menganalisis 12.523 rekaman suara dari 306 partisipan di Amerika Utara. Mereka menemukan bahwa pada laki-laki, terdapat ciri vokal khas dari lesi pita suara, baik yang jinak maupun ganas. Salah satu indikator penting adalah rasio harmonik terhadap noise (harmonic-to-noise ratio), yang mampu membedakan suara pria dengan kanker, lesi jinak, atau gangguan suara.
Menariknya, studi ini belum menemukan ciri signifikan pada suara perempuan. Namun, tim peneliti optimistis bahwa kumpulan data yang lebih luas di masa depan bisa menghasilkan hasil yang lebih baik untuk suara perempuan.
Langkah Berikutnya dalam Pengembangan Teknologi
Menurut Phillip Jenkins, pakar informatika klinis dari Oregon Health & Science University, langkah berikutnya adalah melatih model AI dengan kumpulan data rekaman suara yang lebih besar dan sudah diberi label oleh profesional, lalu mengujinya agar sama efektifnya pada laki-laki maupun perempuan. Ia memperkirakan, jika kumpulan data dan validasi klinis memadai, alat serupa untuk mendeteksi lesi pita suara bisa memasuki tahap uji coba dalam beberapa tahun ke depan.
Studi yang Mendukung Temuan Ini
Beberapa penelitian sebelumnya juga menunjukkan potensi penggunaan suara sebagai indikator kesehatan. Misalnya, sebuah studi yang dilakukan oleh Hongxia Xiao et al., menjelaskan beban kanker laring secara global, regional, dan nasional dari tahun 1990 hingga 2021. Penelitian ini menyoroti perbedaan usia dan jenis kelamin serta faktor risiko yang terkait.
Selain itu, penelitian lain yang dipimpin oleh Jenkins dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa suara bisa menjadi biomarker untuk lesi pita suara yang bersifat jinak maupun ganas. Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Digital Health.
Potensi Aplikasi dalam Dunia Kesehatan
Temuan ini memiliki implikasi besar bagi dunia medis. Jika teknologi ini dikembangkan lebih lanjut, maka deteksi dini kanker laring bisa dilakukan secara non-invasif dan lebih mudah diakses. Hal ini akan memudahkan pasien untuk segera mendapatkan pengobatan, meningkatkan tingkat kesembuhan, dan mengurangi risiko komplikasi.
Selain itu, penggunaan teknologi berbasis AI juga bisa membantu dokter dalam mendiagnosis kondisi yang kompleks dengan akurasi yang tinggi. Dengan adanya sistem ini, pasien tidak perlu lagi mengalami prosedur yang menyakitkan hanya untuk mendapatkan diagnosis.
Tantangan dan Harapan Masa Depan
Meskipun ada banyak harapan, masih ada tantangan yang perlu diatasi. Salah satunya adalah memastikan bahwa model AI yang digunakan dapat bekerja secara efektif pada semua jenis suara, termasuk suara perempuan. Selain itu, diperlukan validasi klinis yang lebih luas agar teknologi ini bisa diadopsi secara luas.
Dengan pengembangan yang terus-menerus, teknologi ini berpotensi menjadi alat bantu yang sangat berharga dalam dunia kesehatan, terutama dalam mendeteksi penyakit-penyakit yang sulit didiagnosis dengan metode konvensional.






























































