Penjelasan Kasus Mutilasi di Mojokerto
Alvi Maulana (24 tahun) yang terbukti melakukan mutilasi terhadap kekasihnya, Tiara Angelina Saraswati (25 tahun), memilih kawasan Cangar, Pacet sebagai tempat pembuangan bagian tubuh korban. Alasannya adalah karena sering melewati jalan tersebut sebelum insiden terjadi.
Menurut informasi dari Kasat Reskrim Polres Mojokerto, AKP Fauzy Pratama, Alvi dan Tiara kerap kali melintasi area tersebut. Diperkirakan mereka telah melewati jalan itu lebih dari sepuluh kali. Hal ini membuat pelaku memahami kondisi lalu lintas di sekitar lokasi tersebut.
Selain itu, tiga minggu sebelum kejadian, Alvi dan Tiara sempat melakukan perjalanan bersama dan mampir untuk makan di kawasan Sendi, Pacet. Perjalanan ini menjadi salah satu momen penting yang membantu pelaku mengetahui lingkungan sekitar.
Setelah insiden terjadi, Alvi membuang potongan tubuh Tiara di kawasan Cangar. Ia menganggap hal itu seperti membuang sampah atau kotoran. Total ada 76 bagian tubuh korban yang berhasil dikumpulkan oleh pihak berwenang.
Kapolres Mojokerto, AKBP Ihram Kustarto, menjelaskan bahwa pelaku membuang bagian tubuh korban secara acak sesuai dengan kemauannya sendiri. Oleh karena itu, lokasi pasti tempat pembuangan tidak dapat diketahui secara pasti.
“Berdasarkan keterangan yang diberikan tersangka, ia membuang bagian tubuh korban layaknya membuang kotoran. Sambil berjalan, ia melemparkannya,” ujar Ihram.
Atas tindakan yang dilakukan, Alvi kini terkena pasal 340 tentang Pembunuhan Berencana. Hukuman yang bisa diterima pelaku adalah hukuman seumur hidup. Namun, penentuan hukuman akhir akan ditentukan oleh pengadilan setelah proses persidangan.
Proses Penyelidikan dan Pengumpulan Bukti
Proses penyelidikan terhadap kasus ini dilakukan dengan teliti oleh pihak kepolisian. Petugas melakukan pencarian di berbagai titik di kawasan Cangar dan sekitarnya. Setelah beberapa hari pencarian, tim berhasil menemukan sebagian besar bagian tubuh korban.
Selain itu, pihak kepolisian juga mengumpulkan keterangan dari saksi-saksi yang pernah berada di lokasi kejadian. Informasi dari saksi-saksi ini sangat penting dalam memperkuat bukti-bukti yang digunakan dalam proses hukum.
Kasus ini juga menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat terkait keselamatan dan perlindungan terhadap individu. Kepolisian berjanji akan meningkatkan pengawasan di kawasan-kawasan yang sering dikunjungi oleh masyarakat.
Tindakan Pihak Berwenang
Selain melakukan penyelidikan, pihak kepolisian juga memberikan perlindungan kepada keluarga korban. Mereka diberikan bantuan psikologis dan dukungan sosial agar bisa melewati masa sulit ini.
Tidak hanya itu, pihak kepolisian juga mengimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada dan melaporkan segala kecurigaan yang mereka temui. Dengan adanya partisipasi aktif dari masyarakat, diharapkan dapat mencegah terjadinya tindakan kekerasan yang sama di masa depan.
Kesimpulan
Kasus mutilasi yang terjadi di Mojokerto ini menunjukkan betapa pentingnya kesadaran masyarakat terhadap keamanan dan perlindungan diri. Selain itu, tindakan tegas dari pihak berwenang sangat dibutuhkan untuk menegakkan hukum dan memberikan rasa aman bagi masyarakat.
Dengan adanya penegakan hukum yang transparan dan efektif, diharapkan kasus-kasus serupa tidak akan terulang lagi di masa depan.






























































