Tradisi Tolak Bala di Desa Masiraan: Kehidupan yang Berjalan dengan Doa dan Harapan
Malam yang gelap di Desa Masiraan, Kecamatan Pandawan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), berubah menjadi penuh cahaya dan doa. Ratusan warga menggelar tradisi tahunan yang dikenal dengan nama Tolak Bala. Acara ini digelar pada malam hari, tepatnya tanggal 30 Juli 2025, sebagai bentuk pengharapan akan keselamatan dan perlindungan dari segala bentuk bahaya.
Pantauan menunjukkan bahwa acara ini dilakukan dengan cara berkeliling kampung sambil membawa obor menyala. Selain itu, warga juga melantunkan doa-doa keselamatan dan penolak bala secara bersamaan. Cahaya obor yang terang menjadi simbol kekuatan dan harapan yang dimiliki oleh masyarakat setempat.
Tradisi ini tidak hanya sekadar ritual budaya, tetapi juga merupakan bentuk pernyataan spiritual. Masyarakat percaya bahwa keselamatan dan kesejahteraan hidup harus diiringi dengan usaha lahir dan batin, termasuk doa bersama. Dengan demikian, acara ini menjadi wujud kerja sama antara manusia dan Tuhan dalam menjaga keberkahan kehidupan.
Kepala Desa Masiraan, Ahmad Fauzi, menjelaskan bahwa tradisi Tolak Bala bukan hanya bagian dari warisan budaya, tetapi juga ekspresi rasa syukur dan permohonan perlindungan terhadap segala bentuk mara bahaya. Ia menekankan bahwa masyarakat tidak hanya ingin hidup secara fisik, tetapi juga secara batin. Dalam tradisi ini, warga berkumpul untuk memanjatkan doa keselamatan agar desa mereka terhindar dari bencana, penyakit, musibah, dan segala bentuk keburukan lainnya.
Setiap langkah dalam pawai Tolak Bala memiliki makna tersendiri. Obor adalah simbol cahaya yang melambangkan harapan, perlindungan, dan semangat. Ketika warga membawa obor sambil melantunkan doa, artinya mereka sedang membawa harapan dan menyerahkan semua kekhawatiran kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Ahmad Fauzi juga menyampaikan bahwa meskipun zaman semakin maju dan teknologi merambah hingga ke daerah pedesaan, menjaga tradisi seperti Tolak Bala tetap menjadi komitmen Pemerintah Desa Masiraan. Ia melihat warisan budaya ini sebagai kekuatan yang mampu menyatukan masyarakat, bukan penghalang kemajuan. Justru dengan menjaga tradisi ini, identitas dan jati diri desa diperkuat.
Anak-anak muda diharapkan dapat memahami bahwa mereka tidak hanya hidup di masa kini, tetapi juga membawa nilai-nilai dari masa lalu yang harus dihormati dan diteruskan. Kegiatan seperti ini menciptakan ruang untuk refleksi kolektif, di mana masyarakat bisa berhenti sejenak dari rutinitas duniawi dan kembali mengingat bahwa segala sesuatu pada akhirnya berada dalam genggaman Tuhan.
Ahmad Fauzi menekankan bahwa dalam hidup tidak cukup hanya bekerja dan mengejar materi. Masyarakat butuh doa, kebersamaan, dan cahaya batin. Tolak Bala adalah tentang hal-hal tersebut. Dengan begitu, tradisi ini menjadi simbol kehidupan yang seimbang antara spiritualitas dan kehidupan sosial, antara budaya dan iman, serta antara masa lalu dan masa depan.
Di tengah derasnya modernisasi, Desa Masiraan memilih untuk tetap berjalan dengan cahaya sendiri. Dalam keheningan, doa, dan harapan yang menyala, masyarakat tetap menjaga nilai-nilai tradisi yang telah diwariskan selama bertahun-tahun.






























































