Kotacimahi.com,
JAKARTA — Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan bahwa sebagian besar dari 72 siswa di Jakarta Timur yang diduga mengalami keracunan akibat Makan Bergizi Gratis (MBG) telah dipulangkan dari rumah sakit. Diduga, mereka mengalami keracunan setelah menyantap spageti dari dapur MBG.
Namun dia mengatakan belum menerima informasi terperinci dari Kepala Dinas Kesehatan atau Kepala Dinas Pendidikan.
“Hampir semua siswa itu sudah dipulangkan, hampir semua sebagian besar. Tapi pagi ini saya belum mendapatkan laporan dari Kepala Dinas Kesehatan maupun Kepala Dinas Pendidikan,” katanya saat Groundbreaking Pasar Gardu Asem, Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (6/4/2026).
Pramono menjelaskan bahwa para siswa diduga mengalami keracunan makanan spageti. Informasi tersebut diperolehnya dari siswa saat dirinya berkunjung ke rumah sakit.
“Waktu itu ketika berdialog dengan saya, mereka mengatakan bahwa kemungkinan besar ini dari spageti,” tambahnya.
Meski begitu, Pramono menyerahkan semuanya kepada Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menjelaskan secara rinci penyebab insiden tersebut.
Sebelumnya, siswa diduga mengalami keracunan setelah menyantap program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Kamis (2/4/2026). Mereka berasal dari beberapa sekolah, termasuk SMAN 91 Jakarta, serta SDN Pondok Kelapa 01, SDN Pondok Kelapa 07, dan SDN Pondok Kelapa 09.
Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menyatakan bahwa BGN menyampaikan permohonan maaf atas kejadian insiden keamanan pangan dalam program MBG di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pondok Kelapa 2, Duren Sawit, Jakarta Timur.
Nanik juga memastikan bahwa BGN akan menanggung seluruh biaya pengobatan korban. Selain itu, pihaknya juga langsung menghentikan operasional (suspend) dapur MBG terkait.
“Kami menyampaikan permohonan maaf atas kejadian ini. BGN juga akan bertanggung jawab terhadap seluruh biaya pengobatan di rumah sakit,” kata Nanik dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (5/4/2026).
BGN, lanjut Nanik, juga telah mengambil langkah tegas sebagai bentuk tanggung jawab dan pengamanan dengan menghentikan operasional SPPG tersebut.
“Selain itu, SPPG Pondok Kelapa kami suspend untuk waktu yang tidak terbatas karena kondisi dapur, termasuk tata letak dan IPAL, masih belum memenuhi standar,” tegasnya.
Penyebab Keracunan Masih Dalam Proses Investigasi
Insiden ini menimbulkan kekhawatiran terhadap sistem pangan yang disediakan oleh program MBG. Sejumlah ahli dan pihak terkait sedang melakukan investigasi untuk mengetahui apakah ada kesalahan dalam proses produksi, penyimpanan, atau distribusi makanan.
Beberapa pertanyaan muncul, seperti: Apakah spageti yang dikonsumsi siswa terkontaminasi bakteri atau bahan kimia? Apakah ada pelanggaran protokol kebersihan di dapur MBG? Bagaimana mekanisme pengawasan terhadap makanan yang disajikan?
Langkah-langkah yang Diambil oleh Pihak Terkait
Selain menghentikan operasional SPPG Pondok Kelapa, BGN juga telah menetapkan beberapa langkah darurat. Salah satunya adalah melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh dapur MBG di Jakarta. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa semua tempat penyediaan makanan sesuai dengan standar keamanan pangan.
Selain itu, BGN juga akan memberikan pelatihan tambahan kepada petugas dapur MBG, agar lebih memahami pentingnya kebersihan dan prosedur penyajian makanan.
Tanggung Jawab Pemerintah Daerah
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyatakan bahwa pihaknya akan tetap memantau perkembangan kasus ini. Ia menegaskan bahwa kesehatan dan keselamatan siswa adalah prioritas utama.
“Kami akan terus berkoordinasi dengan BGN dan dinas terkait untuk memastikan bahwa hal ini tidak terulang kembali,” ujar Pramono.
Kesimpulan
Insiden keracunan yang dialami siswa di Jakarta Timur menjadi peringatan bagi semua pihak terkait tentang pentingnya pengawasan terhadap program makan bergizi gratis. Meskipun awalnya hanya dugaan, namun kejadian ini menunjukkan bahwa sistem pangan harus terus diperbaiki dan diperketat.
Dengan langkah-langkah yang diambil oleh BGN dan pemerintah daerah, diharapkan kejadian serupa tidak lagi terjadi di masa depan.











Leave a Reply