Penangkapan 20 Pelaku Vandalisme di Kota Surabaya
Selama periode Januari hingga April 2026, sebanyak 20 pelaku vandalisme berhasil ditangkap oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Surabaya. Mayoritas dari mereka masih berusia di bawah umur, yang menunjukkan bahwa masalah ini tidak hanya terjadi pada kalangan dewasa, tetapi juga muncul dari generasi muda.
Kepala Bidang Ketertiban Umum Satpol PP Kota Surabaya, Mudita Dhira Widaksa, menjelaskan bahwa puluhan pelaku tersebut rata-rata diamankan di wilayah tengah kota saat melakukan patroli rutin. Menurutnya, wilayah tengah menjadi lokasi yang sering kali menjadi tempat aksi vandalisme.
“Di tahun 2026 sampai dengan April ada 20 orang. Jadi memang rata-rata di wilayah tengah (kota) yang sering kita dapat,” ujar Mudita, Kamis (16/4).
Beberapa waktu lalu, pihak Satpol PP bersama Polrestabes Surabaya berhasil mengamankan empat remaja di kawasan Viaduk Gubeng pada malam hari, Minggu (12/4). Keempatnya diamankan karena mencurigakan dan diperkirakan akan melakukan aksi vandalisme di sekitar lokasi.
“Kami lihat gerakannya mencurigakan, kami dekati, kami cek semua, dia bawa semacam tas ransel, kami buka isinya cat semprot semua. Langsung kita amankan, kami bawa ke kantor Satpol PP,” jelas Mudita.
Dari hasil pemeriksaan, motif para pelaku umumnya berkaitan dengan hobi dan keinginan untuk menyalurkan kreativitas. Beberapa dari mereka bahkan mengaku ingin menunjukkan eksistensi di lingkungan komunitasnya.
“Ada yang ngomong karena hobi. Ada juga yang dia bilang menyalurkan inspirasi, menyalurkan bakat,” tambah Mudita.
Meskipun demikian, Mudita memastikan bahwa aksi vandalisme yang dilakukan para pelaku tidak terkait dengan tindak kriminal lain. Hal ini diperkuat dari hasil koordinasi dengan pihak kepolisian.
“Sejauh ini aksi vandalisme pelaku itu kalau kita korelasi dengan teman-teman pihak kepolisian tidak ada catatan kemudian kriminal,” ujarnya.
Mudita menambahkan bahwa lokasi seperti Viaduk Gubeng dan kawasan kota lama masih menjadi titik favorit aksi vandalisme karena dianggap strategis dan mudah dilihat. Namun, hingga kini belum ditemukan pelaku yang kembali mengulangi perbuatannya setelah diberikan pembinaan.
“Kalau sejauh ini belum pernah dari hasil jangkauan kami kemudian dia terjangkau lagi,” tutupnya.











Leave a Reply