Kepala Desa di Lumajang Jadi Sorotan Setelah Dikeroyok dan Dibacok
Kepala Desa di Lumajang, Jawa Timur, bernama Sampurno kini menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Ia adalah Kades Pakel yang mengalami pengeroyokan dan pembacokan oleh sekelompok orang tak dikenal. Peristiwa ini menimbulkan banyak tanya dan rasa prihatin dari berbagai pihak.
Sampurno mengungkapkan bahwa kejadian ini bermula ketika ia dan keluarganya datang ke rumah Dani untuk meminjam uang. Menurutnya, Dani pernah menyatakan memiliki uang yang bisa dipinjam. Namun, saat sampai di sana, Dani tidak ada dan tidak merespons pesan yang dikirim melalui WhatsApp. Hal ini membuat Sampurno merasa malu karena mereka datang dengan harapan yang besar.
Pertemuan antara Sampurno dan Dani terjadi secara tidak sengaja di lokasi pengajian di Kecamatan Ranuyoso pada 14 April 2026. Sampurno langsung memarahi Dani karena merasa dihina dan dianggap rendah. Ia mengingatkan Dani agar tidak selalu menghina orang kecil dan sering kali menyepelekan mereka.
Setelah itu, Sampurno mengaku bahwa Dani menyuruh 15 orang untuk membunuhnya. Alasannya adalah karena tidak terima diomeli di lokasi pengajian. Sampurno mengingat betul ketika gerombolan orang tersebut tiba di rumahnya menggunakan dua mobil. Mereka membawa senjata tajam dan melakukan aksi yang sangat sadis.
“Saya diam dibacoki. Saya sendiri dua orang di rumah takut. Semua bawa Sajam, kepruk endas (kepala), dari samping depan dan belakang,” katanya.
Meski mengalami luka parah, Sampurno membantah disebut sebagai orang sakti. Ia menilai dirinya hanya manusia biasa yang dijaga oleh pertolongan Tuhan. “Saya tidak Pakai cincin dan tidak pakai sabuk. Seandainya pakai ini insyallah tambah tidak karu karuan. Saya yakin Allah menolong orang jujur dan tidak munafik,” ujarnya.
Meskipun mengalami penganiayaan, Sampurno tidak dendam terhadap para pelaku. Bahkan, ia berencana menyelesaikan kasus ini secara kekeluargaan. “Betul sekali. Saya akan mencontohi bahwa orang muslim harus menunjukan agama itu bukan cuma KTP. Alquran ditaruh di hati sampai mati, isi salawat dan memaafkan saudara saudara yang telah khilaf,” katanya.
Atas peristiwa ini, Sampurno berharap bisa menjadi pelajaran hidup bagi semua orang agar menyelesaikan salah faham dengan tabayun baik-baik. “Tidak usah sampai membunuh, kasihan keluarga kita. Saya mohon maaf memang saya yang salah kepada Mas Dani,” ucapnya.
Sampurno juga berharap para pelaku penganiaya dan pembacokan tersebut segera diberi hidayah oleh Tuhan, serta menerima segala konsekuensinya. “Nerimo hukum berjalan, tapi tetap saya minta damai di Padepokan Arya Wiraraja Pendapa,” tuturnya.











Leave a Reply