Peristiwa Penusukan yang Menewaskan Ketua DPD Partai Golkar Maluku Tenggara
Pada hari Minggu, 19 April 2026, sebuah peristiwa tragis terjadi di Bandara Karel Sadsuitubun, Langgur, yang menewaskan Agrapinus Rumatora alias Nus Kei, ketua DPD Partai Golkar Maluku Tenggara. Nus Kei ditemukan tewas setelah ditikam oleh dua pelaku yang kini sedang dalam penahanan. Peristiwa ini menjadi titik awal dari konflik panjang yang telah berlangsung selama bertahun-tahun antara keluarga dan kelompok Nus Kei dengan kelompok John Kei.
Pelaku dan Motif Penusukan
Dua orang yang diamankan dalam kasus ini adalah Hendrikus Rahayaan (HR) alias Hendra dan Finansius Ulukyanan (FU) alias Finis. Finis disebut sebagai warga biasa, sementara Hendra merupakan atlet Mixed Martial Arts (MMA) dan keponakan dari John Kei. John Kei sendiri dikenal sebagai tokoh penting dalam bisnis penagihan utang di Jakarta. Hubungan antara John Kei dan Nus Kei tidak hanya sekadar persaingan bisnis, tetapi juga memiliki akar keluarga, meskipun keduanya saling berselisih.
Motif dari penusukan ini diduga berkaitan dengan insiden berdarah yang terjadi pada Juni 2019 di Bekasi. Insiden tersebut melibatkan dua kelompok yang saling bersaing dalam penguasaan lahan kosong di sekitar Apartemen Metro Galaxy Park. Dalam peristiwa itu, Fenansius Wadanubun alias Dani Hollat, saudara dari salah satu pelaku, tewas akibat luka tembak. Kedua pelaku penusukan Nus Kei percaya bahwa korban adalah otak di balik pembunuhan tersebut.
Kronologi Penusukan
Nus Kei tiba di Bandara Karel Sadsuitubun sekitar pukul 10.45 WIT, setelah terbang dari Jakarta menggunakan pesawat Lion Air JT880 dari Bandara Pattimura, Ambon. Setelah mendarat, ia langsung bergegas menuju pintu keluar bandara untuk menyambut keluarga yang menunggu. Namun, tanpa diduga, seorang pria yang mengenakan masker dan jaket merah tiba-tiba menyerangnya.
Korban mengalami empat luka tusuk di beberapa bagian tubuh, termasuk dada kanan dan kiri, leher kiri, serta tulang belakang. Meskipun berusaha menyelamatkan diri, Nus Kei akhirnya terjatuh di area pintu keluar bandara dan mendapat pertolongan dari petugas. Pukul 11.44 WIT, Agrapinus Rumatora dinyatakan meninggal dunia oleh dr. Irene Ubro akibat pendarahan hebat dan luka pada organ vital.
Karier Politik Nus Kei
Di bidang politik, Nus Kei diketahui pernah menerima surat tugas dari Partai Golkar untuk mengikuti kontestasi Pilkada di Maluku Tenggara pada 2024. Ia telah mendaftar di Partai Golkar dan sejak empat bulan lalu mengantongi surat tugas dari DPP. Selain itu, ia juga berkoordinasi dengan beberapa partai lainnya untuk memperkuat posisi politiknya.
Perseteruan Panjang Nus Kei vs John Kei
Sebelum menjabat sebagai Ketua DPD Partai Golkar Maluku Tenggara, Nus Kei dikenal sebagai tokoh Maluku yang tinggal di Jakarta. Hubungan antara Nus Kei dan John Kei tidak hanya sekadar hubungan kekeluargaan, tetapi juga berujung pada perselisihan besar yang merenggut nyawa. Bentrokan maut antara geng John Kei dan Nus Kei pernah terjadi di Tangerang pada 2020 dan Bekasi pada 2023.
Bentrokan pada 2020 melibatkan anak buah John Kei yang menyerang kelompok Nus Kei di Duri Kosambi, Cengkareng. Selain itu, mereka juga merusak rumah Nus Kei di Green Lake City, Tangerang. Satu anggota kelompok Nus Kei tewas dalam insiden tersebut. Bentrok kembali terjadi pada 2023 di Bekasi, yang dipicu dendam lama dan masalah di Maluku Tenggara. Seorang anggota kelompok Nus Kei tewas tertembak di kepala.
Latar Belakang Konflik
Konflik antara John Kei dan Nus Kei bermotif masalah pribadi terkait pembagian hasil penjualan tanah di Maluku. Tanah yang menjadi objek permasalahan adalah lahan yang digunakan untuk RSUD Haulussy di Ambon. Proses penjualan tanah itu sebenarnya sudah selesai pada 2020, namun uangnya belum dibagikan karena keterlambatan pembayaran dari pemerintah daerah (pemda) di Ambon.
Nus Kei mengaku sudah memberi penjelasan kepada John Kei, bahwa pembayaran harus menunggu proses persetujuan DPRD dan urusan birokrat lainnya, sehingga memintanya agar bersabar. Namun, setelah John Kei bebas dari penjara karena kasus pembunuhan Tan Harry Tantono alias Ayung, Direktur Sanex Stell Mandiri di Swiss-Belhotel, Jakarta tahun 2012, Nus Kei mengaku kerap menerima teror dan ancaman.
Masa Lalu Nus Kei dan Pengakuan John Kei
John Kei mulai menjejakkan kaki di Jakarta sekitar tahun 1990. Dua tahun kemudian, Nus Kei menyusul. Awalnya, Nus Kei tidak langsung tinggal bersama keponakannya itu, tapi di rumah saudara yang lain. Tak beberapa lama, Nus Kei tinggal tak jauh dari rumah yang selama ini dikenal menjadi markas John Kei di Jalan Tytyan Indah, Medan Satria, Kota Bekasi.
Menurut John Kei, seluruh pernyataan Nus Kei di media soal penyebab perselisihannya juga bohong. Ia mengatakan akar permasalahan dengan Nus Kei adalah utang sebesar Rp 1 miliar. Saat masih mendekam di Rutan Salemba, John Kei mengaku didatangi Nus Kei yang mengajukan pinjaman Rp 1 miliar. Nus Kei menjanjikan akan membayar utangnya sebesar Rp 2 miliar dalam waktu 6 bulan.
Namun setelah dipinjamkan uang tersebut, John Kei mengatakan Nus Kei tak pernah lagi membesuknya di penjara. Bahkan sampai ia bebas bersyarat pada Desember 2019, sosok Nus Kei tak pernah menjenguknya. John Kei akhirnya mengutus anak buahnya untuk menagih utang tersebut, namun hasilnya nihil.
Peristiwa Blowfish dan Pengaruhnya
Sebelum terlibat perseteruan panjang dengan John Kei, nama Nus Kei pernah jadi sorotan publik dalam peristiwa Blowfish medio April 2010 silam. Nus Kei datang ke tempat hiburan Blowfish setelah satu hari sebelumnya terjadi keributan di lokasi tersebut. Saat itu, Nus Kei justru menjadi korban pemukulan oleh beberapa orang. Ia dipukuli setelah sempat bertemu kepala security Blowfish.
Aksi pemukulan terhadap Nus Kei itu kemudian berkembang menjadi keributan besar di dalam tempat hiburan tersebut yang akhirnya menewaskan dua orang. Saat itu diketahui memang ada beberapa orang dari kubu lawan yang telah bersiap ketika tahu Nus Kei tiba bersama orang-orangnya. Setelah keributan itu, empat orang dari kubu lawan menjadi tersangka dan disidangkan.











Leave a Reply