Tersangka Penembakan di White House Correspondents’ Dinner Didakwa atas Percobaan Pembunuhan
Seorang tersangka penembakan yang terjadi dalam acara White House Correspondents’ Dinner resmi didakwa atas percobaan pembunuhan terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Jaksa federal menyebut bahwa Cole Tomas Allen, seorang pria berusia 31 tahun, secara sengaja menerobos pengamanan acara tersebut sambil membawa senjata api laras panjang dan menargetkan presiden serta pejabat kabinet.
Jika terbukti bersalah, Allen menghadapi ancaman hukuman penjara seumur hidup. Selain itu, dakwaan tambahan masih bisa diajukan dalam kasus ini.
Latar Belakang Acara White House Correspondents’ Dinner
White House Correspondents’ Dinner adalah sebuah jamuan makan malam tahunan yang diselenggarakan oleh White House Correspondents’ Association, organisasi yang terdiri dari para jurnalis yang meliput aktivitas presiden Amerika Serikat dan Gedung Putih. Acara ini biasanya digelar di Washington Hilton dan dihadiri oleh presiden AS, pejabat tinggi pemerintahan, anggota kabinet, politisi, jurnalis, tokoh media, hingga selebritas.
Tujuan utama acara ini adalah untuk mempererat hubungan antara pers dan pemerintah, sekaligus menggalang dana untuk beasiswa jurnalistik. Meski bersifat formal, acara ini terkenal karena presiden AS biasanya memberikan pidato santai, humor politik, dan sindiran ringan kepada media maupun lawan politik. Karena hal itu, acara ini sering dijuluki sebagai “malam paling bergengsi bagi pers dan politik di Washington.”
Kronologi Insiden Penembakan
Allen muncul dalam sidang pertamanya di pengadilan federal Washington dengan mengenakan seragam tahanan biru. Ia ditahan dua hari setelah insiden penembakan yang mengguncang acara tahunan Asosiasi Koresponden Gedung Putih.
Menurut laporan jaksa, Allen melakukan perjalanan dengan kereta dari California menuju Chicago lalu ke Washington. Ia tiba pada 24 April 2026 dan menginap di Hotel Washington Hilton, lokasi acara makan malam tersebut.
Saat acara berlangsung, Allen disebut mendekati pos pemeriksaan keamanan di area teras hotel, satu lantai di atas ballroom tempat Trump berada. Pelaksana Tugas Jaksa Agung Todd Blanche mengatakan Allen kemudian berlari melewati detektor logam sambil membawa senjata api laras panjang.
Petugas Secret Service yang berjaga mendengar suara tembakan keras saat itu. Seorang agen Secret Service terkena tembakan di dada, tetapi selamat karena rompi antipeluru yang dikenakannya berfungsi dengan baik. Petugas tersebut kemudian membalas tembakan sebanyak lima kali hingga Allen jatuh ke tanah dan langsung diamankan.
Bukti-Bukti Kuat dalam Kasus Ini
Jaksa Amerika Serikat untuk Washington DC, Jeanine Pirro, mengatakan penyelidikan terhadap Cole Tomas Allen masih terus berlangsung dan dakwaan tambahan masih mungkin diajukan. Ia menyebut pihak berwenang menemukan manifesto yang diduga ditulis oleh Allen sebelum aksi penembakan terjadi.
Manifesto tersebut menjadi bukti penting karena diduga berisi rencana serangan, target utama, serta motif di balik aksinya. Menurut Pirro, dalam dokumen itu target serangan disebut sebagai para pejabat pemerintahan yang “diprioritaskan dari peringkat tertinggi hingga terendah”, yang menempatkan Presiden Donald Trump sebagai sasaran utama. Hal itu menunjukkan bahwa aksi tersebut bukan tindakan spontan, melainkan telah direncanakan sebelumnya.
Selain manifesto, Allen juga diduga membawa pistol semi-otomatis, satu senapan laras panjang, dan tiga pisau saat datang ke lokasi acara. Senjata-senjata itu menjadi bukti fisik bahwa tersangka datang dengan persiapan serius untuk melancarkan serangan. Seluruh senjata tersebut diyakini dibeli di California sebelum Allen melakukan perjalanan ke Washington.
Reaksi Gedung Putih terhadap Insiden Ini
Penembakan ini disebut sebagai upaya pembunuhan ketiga terhadap Trump sejak 2024. Insiden tersebut langsung mengguncang politik Amerika Serikat. Gedung Putih menuding retorika politik dari lawan-lawan Demokrat Trump ikut memicu kekerasan.
Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan kebohongan dan fitnah terhadap Trump telah mendorong orang-orang ekstrem untuk bertindak brutal. “Ini harus dihentikan,” kata Leavitt. Meski demikian, Trump disebut tidak menganggap insiden ini sebagai kegagalan sistem keamanan Secret Service. Leavitt menegaskan pelaku berhasil dilumpuhkan hanya beberapa detik setelah mencoba menerobos perimeter pengamanan.











Leave a Reply