Persoalan Internal Cabang Olahraga Tenis Meja di Indonesia
Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI), Raja Sapta Oktohari, mengungkapkan bahwa hanya satu organisasi cabang olahraga tenis meja yang diakui oleh pihak KOI dan International Table Tennis Federation (ITTF) di Indonesia. Organisasi tersebut adalah Indonesia Pingpong League (IPL).
Menurut Raja Sapta Oktohari, dalam pernyataan resminya pada Jumat, 1 Agustus 2025, hanya IPL yang menjadi anggota NOC Indonesia dan diakui secara internasional. Hal ini disampaikan sebagai respons terhadap isu yang muncul seputar organisasi cabang olahraga tenis meja di Indonesia.
Polemik ini kembali mencuat setelah Pengurus Besar Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PB PTMSI) menyampaikan protes terhadap keberadaan organisasi baru bernama IPL. Setelah mengalami dualisme kepengurusan selama lebih dari 10 tahun, PB PTMSI kembali menghadapi tantangan terkait eksistensi organisasi mereka dengan munculnya IPL yang diakui oleh ITTF dan telah diterima sebagai anggota KOI.
IPL juga ditunjuk oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga untuk menangani pemusatan latihan nasional (pelatnas) para atlet yang dipilih melalui seleksi nasional Piala Menpora 2025. Tujuannya adalah untuk mempersiapkan atlet menghadapi SEA Games 2025.
Keputusan ini menimbulkan ketidakpuasan bagi PB PTMSI. Akibatnya, mereka mengunjungi Kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga serta Kantor KOI pada Kamis, 31 Agustus. Namun, PB PTMSI tidak berhasil bertemu dengan Menteri Pemuda dan Olahraga maupun Ketua Umum KOI.
Raja Sapta Oktohari mengetahui kejadian ini melalui pemberitaan media massa dan merasa prihatin dengan tindakan yang dilakukan oleh PB PTMSI. Ia menyampaikan bahwa masih ada pelaku olahraga yang seharusnya memiliki wawasan global justru terjebak dalam cara pandang yang sempit dan lokal.
“Masalah ini tidak akan selesai jika terus dilihat dari sudut pandang yang sempit. Seharusnya mereka belajar lagi,” ujarnya.
Oktohari menjelaskan bahwa pihaknya tidak akan campur tangan dalam urusan internal cabang olahraga. Fokus utamanya adalah prestasi dan posisi Indonesia di panggung olahraga global. Saat ini, KOI terus melakukan diplomasi olahraga agar Indonesia menjadi pelaku utama, bukan sekadar penonton.
“Energi kami tercurah untuk itu, bukan untuk terseret dalam drama internal yang kontraproduktif,” tambahnya.
Mengenai status keanggotaan organisasi tenis meja di dalam KOI, Oktohari menegaskan bahwa hanya IPL yang diakui. Keputusan ini diambil melalui Rapat Anggota Luar Biasa (RALB) pada 14 Juli 2025.
Ia menambahkan bahwa setiap keputusan terkait keanggotaan KOI selalu mempertimbangkan citra Indonesia di mata dunia. “Kami tidak akan mengorbankan kepentingan nasional yang lebih besar hanya untuk memuaskan kelompok tertentu,” katanya.






























































