Penyebab Umum Kendaraan Listrik Mogok di Jalan
Sejumlah spekulasi muncul mengenai penyebab kendaraan listrik yang mogok dan terkunci di atas rel kereta api di Bekasi Timur pada 27 April 2026. Dua kemungkinan yang sering disebut adalah kehabisan energi baterai utama dan pengaruh medan magnet dari kereta api terhadap kendaraan listrik. Namun, secara statistik, kedua hal tersebut bukanlah penyebab paling umum bagi mobil atau kendaraan listrik (EV) yang mogok di jalan.
Menurut Ketua Program Studi Teknik Sistem Energi Telkom University Bandung, Kharisma Bani Adam, penyebab paling sering adalah gangguan pada sistem daya tegangan rendah aki 12 volt (V). Sistem ini digunakan untuk berbagai fungsi kritis pada mobil listrik, seperti mengaktifkan dan mematikan kendaraan, baterai utama, unit kontrol elektronik (ECU), wiper, klakson, dan lainnya.
Jika terjadi gangguan pada aki 12V, mobil akan berhenti dan roda akan terkunci karena sistem rem parkir diaktifkan. Mekanisme ini bertujuan untuk mencegah mobil meluncur dan mencegah kerusakan lebih lanjut pada sistem kelistrikan, khususnya inverter penggerak mobil listrik. Hal ini dikenal sebagai mekanisme fail-safe.
Secara normal, aki 12V diisi oleh baterai penggerak ketika mobil listrik sedang digunakan. Namun, jika konverter untuk pengisian arus mengalami kerusakan, misalnya akibat kontak yang tidak sempurna pada terminal aki 12V, maka aki tidak akan terisi dengan baik. Masalah lain seperti hubungan singkat arus listrik juga bisa menyebabkan gangguan pada sistem ini.
Bani menjelaskan bahwa frekuensi EV mogok di jalan karena masalah aki ini lebih tinggi dibandingkan masalah baterai. “Jika baterai habis, pengemudi seharusnya bisa lebih mudah mengantisipasi,” katanya. Ia menambahkan bahwa baterai penggerak tidak akan menyuplai daya jika aki sudah habis.
Perbedaan Aki 12/24 Volt dengan Baterai Utama
Abdul Hapid, peneliti di Pusat Riset Teknologi Transportasi Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan perbedaan antara aki 12/24 volt dengan baterai utama yang memiliki tegangan tinggi. Meskipun EV menggunakan baterai tegangan tinggi sebagai sumber energi utama, sistem kontrol, komputer kendaraan, dan aktuator tetap bergantung pada suplai daya dari aki 12/24 volt yang disebut sebagai baterai bertegangan rendah.
Jika baterai 12/24 volt mengalami penurunan tegangan atau kerusakan, maka sistem kontrol tidak dapat beroperasi, termasuk untuk mengaktifkan kontaktor yang menghubungkan baterai utama ke sistem penggerak. Akibatnya, kendaraan tidak dapat dinyalakan meskipun baterai utama masih dalam kondisi baik.
Sistem kontrol, termasuk aktuator rem parkir elektrik, juga bergantung pada suplai dari baterai tegangan rendah ini. Jika baterai ini mengalami penurunan tegangan atau mati, maka sistem tidak dapat menerima perintah untuk melepaskan rem. Dalam kondisi tersebut, kendaraan akan tetap berada dalam posisi terkunci, sehingga roda tidak bisa digerakkan meskipun secara mekanis tidak ada kerusakan.










Leave a Reply