Kotacimahi.com

Portal Berita Terkini

Kisah Guru SD di Lombok Timur Akibat Murid Kelas 1 Tertiru Game Freestyle

Aksi Freestyle dari Game Online Berujung Kematian Siswa SD

Beberapa waktu lalu, sebuah aksi yang dianggap sebagai gaya bebas atau freestyle dari game online menimbulkan korbannya sendiri. Seorang siswa kelas 1 Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Lenek, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), meninggal dunia setelah diduga meniru gerakan ekstrem tersebut secara tidak aman.

Aksi freestyle ini semakin marak di media sosial, terutama di kalangan anak-anak. Mereka meniru gerakan seperti handstand atau berdiri dengan tangan, yang sering kali dilakukan oleh karakter dalam game. Gerakan ini juga pernah viral saat dilakukan saat sujud dalam shalat, sehingga menimbulkan kekhawatiran dari berbagai pihak.

Korban yang dikenal dengan inisial HIW sempat mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit sebelum akhirnya dipulangkan. Namun, beberapa hari kemudian, korban kembali dirawat dan harus menjalani operasi kedua. Sayangnya, nyawa korban tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia.

Pengalaman Keluarga Korban

Wali murid korban, Nisa, menceritakan pengalamannya selama proses perawatan. Awalnya, korban mengalami demam dan sakit kepala, sehingga hanya diberi obat oleh neneknya. Saat itu, kakak korban mengatakan bahwa adiknya sedang dalam kondisi baik-baik saja.

Setelah satu minggu, Nisa mendapatkan informasi bahwa korban masuk rumah sakit. Ia sempat diperbolehkan untuk menjenguk, meskipun hanya bisa melihat dari luar pintu kaca. Pada saat itu, korban masih dalam kondisi stabil, hanya saja kepalanya dibalut perban dan tangannya menggunakan infus.

Setelah seminggu dirawat, korban boleh pulang. Namun, ia belum kembali ke sekolah. Saat Nisa bertanya kepada kakak korban, sang kakak menyampaikan bahwa korban hanya berbaring di kasur dan sesekali bangun, namun hanya bersandar di tembok. Tak lama kemudian, korban kembali dirawat di rumah sakit untuk operasi.

Sayangnya, sebelum operasi dilakukan, korban meninggal dunia. Nisa mengungkapkan bahwa aksi freestyle yang diduga menjadi penyebab kematian korban dilakukan di luar lingkungan sekolah, tepatnya di rumah. Menurut Nisa, kejadian ini sudah berlangsung cukup lama.

Peran Sekolah dan Orang Tua

Nisa menambahkan bahwa korban dan kakaknya tinggal bersama neneknya karena orang tua mereka bekerja di luar daerah. Selama berada di sekolah, NIW dikenal sebagai siswa yang tidak neko-neko dan jarang melakukan hal-hal yang berisiko.

Pihak sekolah baru mengetahui tentang kematian NIW setelah kasus ini viral di media sosial. Menurut Nisa, sebelumnya tidak ada informasi tentang aksi freestyle ini dari para siswa. Hanya setelah viral, pihak sekolah mulai melihat gambar-gambar dari internet dan memahami bahaya dari aksi tersebut.

Tanggapan dari Pihak Berwenang

Ipda Alam Primayogi, Kapolsek Lenek, mengonfirmasi kematian NIW. Menurutnya, korban meninggal pada 3 Mei 2026 setelah mempraktikkan aksi freestyle yang sedang viral. Ia menjelaskan bahwa korban sempat mendapatkan pertolongan medis, tetapi nyawanya tidak tertolong karena mengalami benjolan di kepala.

Menurut Yogi, fenomena aksi freestyle ini sedang marak ditiru oleh anak-anak melalui media sosial. Ia menyarankan kepada para orang tua untuk lebih memperhatikan aktivitas anak, terutama dalam penggunaan ponsel. Selain itu, pihak sekolah juga diminta untuk memberikan edukasi tentang bahaya dari gerakan-gerakan ekstrem ini.

Kesimpulan

Kasus ini menjadi peringatan bagi orang tua dan pihak sekolah untuk lebih waspada terhadap pengaruh media sosial terhadap perilaku anak. Aksi freestyle yang tampak sederhana bisa berujung pada konsekuensi yang sangat serius jika dilakukan tanpa kesadaran akan risikonya. Dengan peningkatan pengawasan dan edukasi, diharapkan kejadian serupa tidak terulang lagi.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *