Kondisi Keamanan di Losarang Menjadi Sorotan
Kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di wilayah Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, kembali menjadi sorotan. Maraknya aksi tawuran antarpelajar yang berulang kali terjadi di wilayah tersebut memunculkan kekhawatiran warga, terutama setelah seorang bocah sekolah dasar menjadi korban trauma akibat menyaksikan langsung bentrokan yang diduga melibatkan pelajar dari dua sekolah berbeda.
Peristiwa yang terjadi di Desa Jangga, tepatnya di Blok Peminggir, pada Rabu 3 Juni 2026 itu membuat masyarakat mempertanyakan efektivitas upaya pencegahan dan pengawasan terhadap aksi kenakalan remaja yang belakangan semakin meresahkan.
Berdasarkan keterangan sejumlah warga, insiden bermula saat sekelompok pelajar yang diduga berasal dari SMAN 1 Losarang dan SMK Muhammadiyah Kandanghaur terlibat perselisihan yang kemudian berkembang menjadi aksi tawuran di jalan desa. Lokasi kejadian merupakan jalur yang biasa dilalui warga, termasuk anak-anak yang pulang sekolah maupun madrasah.
Suasana yang semula tenang mendadak berubah menjadi mencekam. Warga yang berada di sekitar lokasi panik ketika melihat sekelompok pelajar berlarian dan saling berhadapan di tengah jalan. Situasi semakin membuat masyarakat khawatir karena sejumlah pelajar diduga membawa senjata tajam jenis celurit berukuran panjang.
Kehadiran senjata tajam di tengah keramaian warga menimbulkan ketakutan tersendiri. Banyak masyarakat berusaha menghindari lokasi kejadian demi keselamatan diri dan keluarga mereka. Di tengah situasi yang tidak menentu tersebut, dua anak perempuan yang baru pulang dari kegiatan madrasah tanpa sengaja berada di sekitar lokasi bentrokan. Salah satunya adalah Nara, bocah berusia 10 tahun yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
Bersama temannya, Amel, Nara sedang berjalan pulang seperti biasa ketika aksi tawuran mendadak pecah di hadapan mereka. Kedua anak tersebut terlihat ketakutan saat menyaksikan para pelajar berlarian dan diduga membawa senjata tajam. Beruntung, warga sekitar segera bertindak cepat dengan membawa kedua anak tersebut masuk ke dalam rumah untuk menghindari kemungkinan menjadi korban.
Tutina, warga Blok Peminggir yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Nara, mengaku sangat terkejut dengan kejadian tersebut. Menurutnya, aksi tawuran kali ini berbeda karena adanya dugaan penggunaan senjata tajam yang membuat situasi semakin berbahaya.
“Saya kaget sekali melihat kejadian itu. Apalagi ada yang membawa celurit panjang. Ponakan saya, Nara, bersama temannya Amel sedang pulang dari madrasah saat kejadian. Untung ada warga yang langsung membawa mereka masuk ke dalam rumah supaya aman,” ujarnya.
Menurut Tutina, setelah kejadian tersebut Nara mengalami ketakutan dan syok. Bocah itu masih sering menceritakan kembali apa yang dilihatnya dan merasa takut setiap kali mengingat para pelajar yang berlarian di tengah jalan sambil membawa benda yang diduga senjata tajam.
Peristiwa tersebut kembali memunculkan keresahan di tengah masyarakat Losarang. Warga menilai aksi tawuran yang berulang bukan lagi sekadar kenakalan remaja biasa, melainkan telah menjadi ancaman nyata bagi keselamatan masyarakat umum.
“Yang kami takutkan bukan hanya pelajarnya yang terluka, tetapi warga yang kebetulan melintas juga bisa menjadi korban. Anak-anak yang pulang sekolah atau madrasah tentu sangat rentan jika kejadian seperti ini terus berulang,” ujar seorang warga.
Maraknya aksi tawuran di wilayah Losarang juga memunculkan pertanyaan dari masyarakat mengenai efektivitas langkah pencegahan yang selama ini dilakukan. Warga berharap aparat terkait, pihak sekolah, orang tua, dan pemerintah daerah dapat bersinergi untuk mencari solusi konkret agar kejadian serupa tidak terus terulang.
Ketua DPD Ikatan Wartawan Online Indonesia (IWOI) Kabupaten Indramayu, Atim Sawano, turut menyampaikan keprihatinannya atas peristiwa tersebut. Menurutnya, tawuran pelajar yang berulang harus menjadi perhatian serius karena dampaknya telah dirasakan langsung oleh masyarakat yang tidak memiliki hubungan dengan konflik tersebut.
“Kami sangat prihatin dengan kejadian ini. Tawuran pelajar tidak boleh dianggap sebagai kenakalan biasa karena sudah membahayakan masyarakat. Apalagi sampai menimbulkan trauma terhadap anak-anak yang tidak ada kaitannya dengan konflik tersebut. Semua pihak harus duduk bersama mencari solusi agar kejadian seperti ini tidak terus berulang,” katanya.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi mengenai jumlah pelajar yang terlibat maupun adanya korban luka dari pihak yang bertikai. Meski demikian, masyarakat mendesak agar pengawasan terhadap aktivitas pelajar diperketat serta dilakukan pembinaan yang lebih intensif mengenai bahaya kekerasan dan konsekuensi hukum membawa senjata tajam.
Peristiwa di Blok Peminggir, Desa Jangga, menjadi pengingat bahwa dampak tawuran tidak hanya dirasakan oleh para pelaku, tetapi juga masyarakat sekitar. Trauma yang dialami seorang bocah sekolah dasar akibat menyaksikan aksi kekerasan tersebut menjadi gambaran nyata bahwa persoalan tawuran pelajar di Losarang membutuhkan perhatian serius dan langkah nyata dari seluruh pihak sebelum memakan korban yang lebih besar.











Leave a Reply