Kotacimahi.com

Portal Berita Terkini

Ledakan Maut di Biak Akibat Aktivitas Potong Mortir Perang Dunia II, Lima Tersangka Tewas

Penyebab Ledakan di Biak Terungkap

Pada 31 Mei 2026, sebuah ledakan besar terjadi di Kompleks Perikanan, Kabupaten Biak Numfor, Papua. Insiden ini menewaskan sembilan orang dan menyebabkan kerusakan pada sejumlah bangunan di sekitar lokasi. Setelah dilakukan penyelidikan intensif oleh Polda Papua, akhirnya penyebab ledakan tersebut berhasil diungkap.

Aktivitas Pemotongan Mortir yang Berujung pada Kecelakaan

Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa ledakan dipicu oleh aktivitas pemotongan mortir yang masih mengandung bahan peledak aktif menggunakan gergaji besi. Mortir tersebut diduga merupakan sisa peninggalan dari Perang Dunia II. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Papua, Kombes Pol Parasian Herman Gultom, menjelaskan bahwa penyidik telah memeriksa 25 saksi dan mengumpulkan berbagai alat bukti untuk memastikan kebenaran penyebab ledakan tersebut.

Dari hasil penyidikan, ditemukan lima orang yang diduga melakukan aktivitas memotong atau membongkar mortir yang masih mengandung bahan peledak aktif hingga memicu terjadinya ledakan. Kelima tersangka tersebut kemudian ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini. Namun, sayangnya, kelima tersangka juga menjadi korban dalam ledakan tersebut.

Karena seluruh tersangka telah meninggal dunia, penyidik menghentikan perkara melalui penerbitan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3). Meski demikian, Polda Papua tetap menegaskan bahwa penyidikan terkait asal-usul mortir dan kemungkinan keterlibatan pihak lain masih terus dilakukan.

Mekanisme Ledakan yang Terjadi

Menurut Kabid Laboratorium Forensik Polda Papua, AKBP I Gede Suhartawan, hasil pemeriksaan ilmiah menunjukkan bahwa ledakan berasal dari aktivitas pemotongan mortir menggunakan gergaji besi. Gesekan mata gergaji dengan badan mortir menghasilkan panas yang mengenai fuse atau pemicu ledakan, sehingga mengaktifkan booster dan memicu detonasi muatan utama berupa Trinitrotoluene (TNT).

“Dari hasil analisis ilmiah, ledakan dipicu oleh aktivitas pemotongan mortir menggunakan gergaji besi. Gesekan antara mata gergaji dengan badan mortir menghasilkan panas yang mengenai fuse atau pemicu ledakan sehingga mengaktifkan booster dan akhirnya memicu detonasi terhadap muatan utama berupa TNT,” ujar I Gede.

Barang Bukti yang Diamankan

Tim Laboratorium Forensik mengamankan 111 barang bukti, di antaranya 88 serpihan logam, mesin gerinda, mata gergaji, proyektil logam, botol berisi serbuk diduga sisa bahan peledak, hingga pakaian korban. Hasil uji laboratorium memastikan bahwa serpihan logam berasal dari mortir jenis yang sama dan mengandung TNT, bahan peledak kategori high explosive.

Korban dan Kerusakan Akibat Ledakan

Dalam peristiwa tersebut, sembilan orang meninggal dunia, terdiri dari delapan korban tewas di lokasi dan satu korban meninggal saat menjalani perawatan di rumah sakit. Enam orang lainnya mengalami luka-luka. Ledakan juga mengakibatkan kerusakan pada sembilan rumah warga dan satu rumah ibadah.

Imbauan kepada Masyarakat

Masyarakat diimbau untuk tidak menyentuh, memindahkan, atau membongkar benda yang diduga merupakan bahan peledak maupun sisa peninggalan perang. Jika menemukan benda mencurigakan, masyarakat diminta segera melaporkannya kepada aparat kepolisian atau TNI agar dapat ditangani sesuai prosedur.

Lokasi dan Waktu Kejadian

Insiden ledakan diduga bahan peledak sisa peninggalan Perang Dunia II terjadi di Kompleks Perikanan, Jalan Walter Mongonsidi, Kelurahan Fandoi, Distrik Biak Kota, Kabupaten Biak Numfor, Minggu (31/5/2026) sekitar pukul 14.45 WIT. Polres Biak Numfor menangani peristiwa tersebut.

Berdasarkan informasi awal, sumber ledakan di sekitar area bawah salah satu rumah panggung di kompleks tersebut. Sejumlah warga yang berada di sekitar lokasi menjadi korban dalam peristiwa tersebut.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *